HIV AIDS Penyakit Masa depan Anak Indonesia

HIV AIDS PENYAKIT MASA DEPAN PADA ANAK INDONESIA

Dua puluh tahun lalu hanya mendengar cerita AIDS saja masyarakat Indonesia sudah panik. Tidak mustahil sepuluh tahun mendatang  masyarakat akan terbiasa dengan penderita AIDS di lingkungannya bahkan di dalam rumahnya. Tanggal 1 Desember sebagai hari AIDS dunia ini, diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat sebagai ancaman bagi anak di masa depan.

Bila mendengar infeksi flu burung pasti membuat ciut nyali manusia, betapa tidak hanya dalam hitungan hari penyakit ini langsung mengancam jiwa. Tetapi bila mendengar AIDS mungkin masyarakat sudah mulai kebal mungkin karena hal itu bukanlah hal baru. Meskipun semakin banyaknya pemberitaan yang menunjukkan bahwa ancaman tersebut semakin nyata. Hal lain, infeksi AIDS semakin menjadi biasa karena tidak langsung mengancam jiwa perlu waktu tahunan hingga belasan tahun hingga sampai mengancam jiwa.

AIDS sebagai penyakit tubuh akan dianggap biasa manakala kasus tersebut hidup subur dan berlangsung lama. Hal ini berakibat hilangnya sensitifitas manusia terhadap kewaspadaan menghadapi bencana masa depan bangsa ini. Bila hal ini terjadi maka penanganan dan pencegahan terhadap dua penyakit masyarakat yang berbahaya ini menjadi kendor.

Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah infeksi virus yang secara progresif menghancurkan sel-sel darah putih dan menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). AIDS adalah penyakit fatal yang merupakan stadium lanjut dari infeksi HIV. Infeksi oleh HIV biasanya berakibat pada kerusakan sistem kekebalan tubuh secara progresif, menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik di berbagai bagian tubuh  tertentu. Gejala umum yang sering terjadi pada anak adalah diare berkepanjangan, sering mengalami infeksi atau demam lama, tumbuh jamur di mulut, badan semakin kurus dan berat badan terus turun. Serta gangguan sistem dan fungsi organ tubuh lainnya yang berlangsung kronis atau lama. Secara primer HIV dan AIDS terjadi pada dewasa muda, tapi jumlah anak-anak dan remaja yang terkena semakin bertambah jumlahnya.

Mengancam anak

HIV dan AIDS adalah masalah darurat global. Di seluruh dunia lebih dari 20 juta orang meninggal sementara 40 juta orang telah terinfeksi. Fakta yang lebih memprihatinkan adalah bahwa di seluruh dunia setiap hari virus HIV menular kepada sekitar 20.00 anak di bawah 15 tahun, terutama berasal dari penularan ibu-bayi, menewaskan 1400 anak di bawah  15 tahun, dan menginfeksi lebih dari 6000 orang muda dalam usia produktif antara 15-24 tahun yang juga merupakan mayoritas dari orang-orang yang hidup dengan HIV dan AIDS (ODHA).

Ancaman penyakit ini terhadap generasi muda cukup memprihatinkan. Menurut data Departemen Kesehatan, di Indonesia sampai dengan 30 Juni 2008 secara kumulatif jumlah kasus AIDS yang dilaporkan adalah 12.686 orang  kasus dan HIV 6.277 orang. Distribusi usia penderita AIDS pada 2008 memperlihatkan tingginya persentase jumlah usia muda dan jumlah usia anak. Penderita dari golongan usia 20-29 tahun mencapai 53,62%, dan bila digabung dengan golongan usia sampai 49 tahun, maka angka menjadi 89,27 %.

Dengan semakin banyak perempuan di Indonesia yang terinfeksi HIV, semakin banyak anak juga terlahir dengan HIV. Walaupun ada cara untuk mencegah penularan HIV dari ibu-ke-bayi, Sebagian besar anak di bawah usia sepuluh tahun yang terinfeksi HIV tertular oleh ibunya. Penularan dapat terjadi dalam kandungan, waktu melahirkan atau melalui menyusui. Generasi muda sebagai usia produktif beresiko mewarisi generasi yang sakit juga bagi keturunannya. Hingga Juni 2008, departemen kesehatan mendapatkan laporan anak yang terkena AIDS usia dibawah 14 tahun adalah sebanyak 228 anak dengan perincian dibawah usia 1 tahun 62 orang, usia 1-4 tahun 129 orang dan usia 5-14 tahun 47 orang. Angka kematian bayi umumnya di Indonesia dilaporkan hampir 35 per 1.000 lahir hidup pada 2006. Diluar laporan tersebut diperkirakan sebanyak 43.60 anak tertular HIV dari ibunya yang HIV positif dan separuhnya telah meninggal. Diperkirakan bahwa setiap hari sepuluh bayi terlahir dengan HIV. Kesehatan bayi tersebut paling rentan pada tahun pertama kehidupannya, dan kemungkinan sepertiganya meninggal dunia sebelum berusia satu tahun, umumnya tanpa didiagnosis HIV.

Para ahli epidemiologi Indonesia memproyeksikan bila tidak ada peningkatan upaya penanggulangan yang berarti, maka pada 2010 jumlah kasus AIDS menjadi 400.000 orang dengan kematian 100.000 orang, dan pada 2015 menjadi 1.000.000 orang dengan kematian 350.000 orang. Kebanyakan penularan tetap terjadi pada sub-populasi berperilaku berisiko kepada isteri atau pasangannya. Diperkirakan pada akhir 2015 akan terjadi penularan HIV secara kumulatif pada lebih dari 38,500 anak yang dilahirkan dari ibu yang HIV positif.

Penyebab dan penularan  pada anak

Penularan infeksi HIV dari Ibu ke Anak merupakan penyebab utama infeksi HIV pada anak usia di bawah 15 tahun. Sejak HIV menjadi  pandemic di dunia, diperkirakan 5,1 juta anak di dunia terinfeksi HIV. Hampir sebagian besar penderita tersebut tertular melalui penularan dari ibu ke anak.

Wanita sering tertular infeksi HIV melalui hubungan  heterosexual dengan pasangan yang terinfeksi atau melalui penggunaan obat-obatan,  Meningkatnya infeksi HIV pada anak adalah karena akibat penularan selama  perinatal (periode kehamilan, selama dan setelah persalinan). Lebih dari 90% AIDS pada anak yang dilaporkan tahun 1994 terjadi karena transmisi dari ibu hamil ke anak.. Penularan terhadap bayi bisa terjadi selama kehamilan, persalinan atau postnatal melalui ASI. Angka kejadian penularan dari ibu ke anak diperkirakan sekitar 20% – 30%. Resiko penularan di negara berkembang sekitar 21% – 43%, lebih tinggi dibandingkan resiko penularan di negara maju sekitar 14%-26%. Penularan dapat tejadi saat kehamilan, intrapartum, dan pasca persalinan. Resiko infeksi penularan terbanyak terjadi saat persalinan sebesar 18%, di dalam kandungan 6% dan pasca persalinan sebesar 4%.

Penularan di dalam kandungan didiagnosis jika pemeriksaan virologis negatif  dalam 48 jam pertama setelah kelahiran, selanjutnya tes minggu pertama menjadi positif dan bayi tidak menyusui Ibu. Selama persalinan bayi dapat tertular darah atau cairan vagina yang mengandung HIV melalui paparan virus yang tertelan pada jalan lahir. Pada ibu yang terinfeksi HIV, ditemukan virus pada cairan vagina 21%, cairan aspirasi lambung pada bayi yang dilahirkan. Besarnya paparan pada jalan lahir sangat dipengaruhi dengan adanya kadar HIV pada cairan vagina ibu, cara persalinan, ulkus serviks atau vagina, perlukaan dinding  vagina, infeksi cairan ketuban, ketuban pecah dini, persalinan prematur, penggunaan elektrode pada kepala janin, penggunaan vakum atau forsep, episiotomi dan rendahnya kadar CD4 pada ibu.

Penularan HIV melalui ASI diketahui merupakan faktor penting penularan paska persalinan dan meningkatkan resiko tranmisi dua kali lipat.  ASI diketahui banyak mengandung HIV dalam jumlah cukup banyak. Konsentrasi sel yang terinfeksi HIV pada ibu yang menderita HIV adalah 1 per 104 sel, partikel virus ini dapat ditemukan pada componen sel dan non sel ASI. Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi resiko tranmisi HIV melalui ASI antara lain mastitis atau luka di puting, luka di mulut bayi, prematuritas dan fungsi kekebalan tubuh bayi.  Penelitian yang telah dilakukan menyebutkan resiko tranmissi HIV melalui ASI diperkirakan adalah 3,2 per 100 anak pertahun.  Keadaan penyakit ibu juga menjadi pertimbangan karena Ibu yang terinfeksi HIV mempunyai resiko kematian yang lebih tinggi dari yang tidak menyusui. WHO, Unicef dan UNAIDS mengeluarkan rekomendasi untuk menghindari Air Susu Ibu yang terkena HIV jika alternatif susu lainnya tersedia dan aman.

 

 

Pencegahan

Cara paling efisien dan efektif untuk menanggulangi infeksi HIV pada anak secara universal adalah dengan mengurangi penularan dari ibu ke anaknya (mother-to-child transmission (MTCT). Upaya pencegahan transmisi HIV pada anak menurut WHO dilakukan melalui 4 strategi, yaitu mencegah penularan HIV pada wanita usia subur, mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada wanita HIV, mencegah penularan HIV dari ibu HIV hamil ke anak yang akan dilahirkannya dan memberikan dukungan, layanan dan perawatan berkesinambungan bagi pengidap HIV. Angka kematian bayi akibat HIV dapat dikurangi dengan diagnosis dini, pencegahan infeksi oportunistik, dan terapi antiretroviral (ART). Penelitian menunjukkan dengan upaya tersebut meningkatkan harapan  hidup sampai tua, seperti dengan orang dewasa.

Orangtua atau ibu dari bayi yang terpapar HIV harus menyadari masalah yang dihadapi anaknya sejak awal. Penentuan diagnosis HIV yang akan dihadapi penderita sangat berpengaruh pada orang tua dan keluarga. Ibu penderita harus diberikan informasi yang jelas tentang seringnya evaluasi pemeriksaan, kesulitan diagnosis awal infeksi HIV pada bayi, manfaat pemeriksaan untuk menentukan status infeksi bayi. Pemberian ARV dalam mengurangi resiko penularan, modifikasi dalam rekomendasi imunisasi, rekomendasi untuk tidak memberi ASI  dan kewaspadaan untuk mencegah penyebaran penyakit. Sangatlah penting sebagai pencegahan.

Peningkatan kasus HIV harus disertai peningkatan keterlibatan dokter khususnya dokter spesialis kandungan, dokter anak dan tenaga medis lainnya dalam perawatan bayi yang terpapar HIV. Masyarakat khususnya yang beresiko terinfeksi HIV hendaknya juga turut aktif dalam pencegahan penularan HIV pada bayi yang akan dilahirkan.  Skrening atau pemeriksan awal HIV pada Ibu hamil yang beresiko harus sudah menjadi tindakan rutin. Resiko dan potensi pada anak untuk terinfeksi HIV semakin meningkat pesat. Untuk mencegah dalam kondisi yang lebih mangkawatirkan, maka pencegahan harus terus dilakukan. Mengurangi kehidupan seks bebas, menghindari narkoba dan perilaku negatif lainnya adalah tindakan yang harus dikampanyekan terus menerus. Jangan sampai dosa dan perbuatan buruk orang tua menjadi beban kehidupan anak Indonesia di kemudian hari.

 

 

 

www.klinikanakonline.com

Provided By: KLINIK ANAK ONLINE Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 085101466102 – 085100466103 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 2961425208131592-2012 – 08131592-2013 – 08131592-2012 email : judarwanto@gmail.com http://growupclinic.com Facebook: http://www.facebook.com/GrowUpClinic Twitter: @growupclinic Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online
“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen *** We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2015, Klinik Anak Online, Information Education Network. All rights reserved

2 responses to “HIV AIDS Penyakit Masa depan Anak Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s