Difteri, Penyakit Jarang Yang Masih Mengancam

Difteri adalah penyakit akibat terjangkit bakteri yang bersumber dari C. diphtheriae. Meski saat ini jarang, Difteri adalah penyakit yang menakutkan di mana masa lalu telah menyebabkan ribuan kematian, dan masih mewabah di daerah-daerah dunia yang belum berkembang. Saat ini penderita yang terkena difteri biasanya tidak melakukan imunisasi DPT secara lengkap.

Orang yang selamat dari penyakit ini menderita kelumpuhan otot-otot tertentu dan kerusakan permanen pada jantung dan ginjal. Anak-anak yang berumur satu sampai sepuluh tahun sangat peka terhadap penyakit ini.
Difteri Adalah suatu penyakit infeksi toksik akut yang sangat menular, disebabkan oleh  Corynebacterium  diphtheriae  dengan   ditandai pembentukan pseudomembran pada kulit dan/atau mukosa.

MEKANISME TERJADINYA PENYAKIt

Kuman masuk melalui mukosa/kulit, melekat serta berbiak  pada permukaan mukosa saluran nafas bagian atas dan mulai  memproduksi  toksin yang merembes ke sekeliling  serta  selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh limfe dan  darah.

Produksi toksin semakin banyak, daerah infeksi semakin lebar dan terbentuklah eksudat fibrin.  Terbentuklah suatu  membran yang melekat erat berwarna  kelabu  kehitaman, tergantung dari jumlah darah yang terkandung. selain  fibrin, membran juga terdiri dari sel-sel radang, eritrosit dan  sel-sel epitel. Bila dipaksa melepas membran akan terjadi perdarahan. Selanjutnya membran akan terlepas sendiri dalam  periode penyembuhan.

Kadang-kadang terjadi infeksi sekunder dengan bakteri (misalnya Streptococcus pyogenes). Membran dan jaringan edematous dapat menyumbat jalan nafas. gangguan  pernafasan/suffokasi bisa terjadi dengan  perluasan penyakit ke dalam laring atau cabang-cabang  tracheobronchial. Toksin yang diedarkan dalam tubuh bisa mengakibatkan kerusakan pada setiap organ, terutama jantung, saraf dan ginjal.

Antitoksin  diphtheria  hanya berpengaruh  pada  toksin  yang bebas atau yang terabsorbsi pada sel, tetapi tidak bila telah terjadi  penetrasi  ke dalam sel.  Setelah  toksin  terfiksasi dalam  sel,  terdapat periode laten yang  bervariasi  sebelum timbulnya manifestasi klinik. Miokardiopati  toksik biasanya  terjadi dalam  10-14  hari, manifestasi saraf  pada  umumnya  terjadi setelah  3-7 minggu. Kelainan patologi yang menonjol  adalah nekrosis  toksis  dan degenerasi hialin  pada  bermacam-macam organ  dan  jaringan. Pada jantung  tampak  edema, kongesti, infiltrasi sel mononuklear pada serat otot dan sistem konduksi.  Bila penderita tetap hidup terjadi regenerasi  otot  dan fibrosis  interstisial.  pada saraf  tampak  neuritis  toksik dengan  degenerasi lemak pada selaput mielin.  Nekrosis  hati bisa  disertai  gejala  hipoglikemia,  kadang-kadang tampak perdarahan adrenal dan nekrosis tubuler akut pada ginjal.

Tanda dan Gejala Penyakit

Tergantung  pada berbagai faktor, maka  manifestasi  penyakit ini   bisa   bervariasi  dari  tanpa  gejala   sampai   suatu keadaan/penyakit yang hipertoksik serta fatal. Sebagai faktor primer adalah imunitas penderita terhadap toksin  diphtheria, virulensi serta toksinogenesitas (kemampuan membentuk toksin) C. diphtheriae, dan lokasi penyakit secara anatomis.  Faktor-faktor  lain  termasuk umur, penyakit sistemik  penyerta  dan penyakit-penyakit  pada  daerah  nasifaring  yang  sudah  ada sebelumnya.  Masa  tunas  2-6 hari.

Penderita  pada  umumnya datang untuk berobat setelah beberapa hari menderita keluhan sistemik. Demam  jarang melebihi 38,9o C dan keluhan serta gejala  lain tergantung pada lokalisasi penyakit diphtheria.

Gejala yang muncul ialah sakit tenggorokan, demam, sulit bernapas dan menelan, mengeluarkan lendir dari mulut dan hidung, dan sangat lemah. Kelenjar getah bening di leher membesar dan terasa sakit. Lapisan(membran) tebal terbentuk menutupi belakang kerongkongan atau jika dibuangkan menutup saluran pernapasan dan menyebabkan kekurangan oksigen dalam darah.
Diphtheria Hidung
Pada permulaan mirip common cold, yaitu pilek ringan  tanpa atau disertai gejala sistemik ringan. Sekret hidung berangsur menjadi serosanguinous dan kemudian mukopurulen  mengadakan lecet  pada  nares dan bibir atas.  Pada  pemeriksaan  tampak membran putih pada daerah septum nasi. Absorpsi toksin sangat lambat  dan gejala sistemik yang timbul tidak nyata  sehingga diagnosis lambat dibuat.

Diphtheria Tonsil-Faring

Gejala anoroksia, malaise, demam ringan, nyeri menelan. dalam 1-2  hari timbul membran yang melekat, berwarna  putih-kelabu dapat  menutup tonsil dan dinding faring, meluas ke uvula  dan palatum molle atau ke distal ke laring dan trachea.

Usaha melepas membran akan mengakibatkan perdarahan. Dapat terjadi  lymphadenitis  servikalis dan  submandibularis  bila bersamaan dengan edema jaringan lunak leher yang luas  timbul bullneck.  Selanjutnya tergantung derajat elaborasi  toksin dan  luas  embran. Bila kasus berat, bisa  terjadi  kegagalan pernafasan  atau  sirkulasi. Dapat terjadi  paralisis  palatum molle  baik uni maupun bilateral, disertai kesukaran  menelan dan regurgitasi. Stupor, koma, kematian bisa terjadi dalam satu minggu sampai 10 hari. Pada kasus sedang, penyembuhan terjadi secara berangsur-angsur dan bisa disertai penyulit  miokarditis atau neuritis. Pada kasus ringan membran  terlepas dalam 7-10 hari; biasanya terjadi penyembuhan sempurna.

Diphtheria Laring
Biasanya merupakan perluasan diphtheria faring, pada diphtheria laring primer gejala toksik kurang nyata, tetapi lebih berupa gejala obstruksi saluran nafas atas.  Gejala  sukar dibedakan  dari  tipe infectious croup  yang   lain  seperti nafas berbunyi, stridor progresif, suara parau, batuk  kering dan  pada obstruksi laring yang berat terdapat  retraksi  suprasternal,  subcostal  dan  supraclavicular.  Bila   terjadi pelepasan  membran  yang  menutup jalan  nafas  bisa  terjadi kematian mendadak. pada kasus berat, membran meluas ke percabangan tracheobronchial. Dalam hal diphtheria laring  sebagai perluasan daripada diphtheria faring, gejala merupakan campuran gejala obstruksi dan toksemia.

Diphtheria Kulit, Vulvovaginal, Konjungtiva, Telinga

Diphtheria kulit berupa tukak di kulit, tepi jelas dan terdapat membran pada dasarnya. Kelainan cenderung menahun. Diphtheria pada mata dengan lesi pada konjungtiva berupa kemerahan,  edema   dan  membran pada  konjungtiva  palpebra.  Pada telinga  berupa  otitis eksterna dengan  sekret  purulen  dan berbau.

DIAGNOSIS

Harus dibuat atas dasar pemeriksaan klinis oleh karena penundaan pengobatan akan membahayakan jiwa penderita. Penentuan kuman diphtheria dengan sediaan langsung kurang dapat dipercaya.  Cara  yang  lebih akurat  adalah  dengan  identifikasi secara fluorescent antibody technique, namun untuk ini diperlukan seorang ahli. Diagnosis pasti dengan isolasi C, diphtheriae dengan pembiakan pada media Loeffler dilanjutkan dengan tes  toksinogenesitas secara vivo (marmut) dan vitro (tes Elek). Cara Polymerase Chain Reaction (PCR) dapat membantu menegakkan diagnosis difteri dengan cepat, namun pemeriksaan ini mahal dan masih memerlukan penjajagan lebih lanjut untuk penggunaan secara luas.

Komplikasi

Obstruksi jalan nafas :
Disebabkan oleh karena tertutup jalan nafas oleh membran diphtheria atau oleh karena edema pada tonsil, faring, daerah sub mandibular dan cervical.

Efek toksin.
Penyulit pada jantung berupa miokardioopati toksik bisa terjadi pada minggu ke dua, tetapi bisa lebih dini (minggu pertama) atau  lebih  lambat (minggu ke enam).  Manifestasinya  bisa berupa  takhikardi, suara jantung redup, bising jantung,  atau aritmia. Bisa pula terjadi  gagal  jantung. Penyulit  pada  saraf (neuropati) biasanya  terjadi  lambat,  bersifat bilateral,  terutama  mengenai saraf  motorik  dan  sembuh sempurna. Kelumpuhan pada palatum molle pada minggu ke-3, suara menjadi sengau, terjadi  regurgitasi nasal, kesukaran menelan. Paralisis otot mata biasanya pada minggu ke-5, meskipun dapat terjadi antara minggu ke-5  dan  ke-7. Paralisa ekstremitas bersifat bilateral  dan simetris  disertai hilangnya deep tendon reflexes,  peningkatan  kadar  protein dalam liquor  cerebrospinalis.  Bila terjadi  kelumpuhan  pada pusat  vasomotor  dapat  terjadi hipotensi dan gagal jantung.

Infeksi sekunder dengan bakteri lain :

Setelah  penggunaan antibiotika secara luas, penyulit  ini sudah sangat jarang.

TATALAKSANA

Isolasi dan Karantina :
Penderita diisolasi sampai biakan negatif 3 kali berturut-turut setelah masa akut terlampaui. Kontak penderita diisolasi sampai tindakan-tindakan  berikut terlaksana :

biakan hidung dan tenggorok
seyogyanya dilakukan tes  Schick (tes kerentanan terhadap diphtheria)
diikuti  gejala  klinis  setiap hari sampai masa tunas terlewati.

Anak yang telah mendapat imunisasi dasar diberikan booster dengan toksoid diphtheria.

Bila kultur (-)/Schick test (-) : bebas isolasi
Bila kultur (+)/Schick test (-) :pengobatan carrier
Bila  kultur (+)/Schick test (+)/gejala (-) : anti  toksin diphtheria + penisilin
Bila kultur (-)/Shick test (+) : toksoid (imunisasi aktif)

Pengobatan :
Tujuan mengobati penderita diphtheria adalah menginaktivasi toksin yang belum terikat secepatnya, mencegah dan mengusahakan agar penyulit yang terjadi minimal, mengeliminasi C. diphtheriae untuk mencegah penularan serta mengobati  infeksi penyerta dan penyulit diphtheria.

Terapi Umum
Istirahat  mutlak  selama kurang lebih  2  minggu,  pemberian cairan serta diit yang adekwat. Khusus pada diphtheria laring dijaga  agar nafas tetap bebas serta dijaga kelembaban  udara dengan menggunakan nebulizer.

Bila tampak kegelisahan, iritabilitas serta gangguan pernafasan yang progresif hal-hal tersebut merupakan indikasi tindakan trakeostomi.

Terapi Khusus :

  • Antitoksin : serum anti diphtheria (ADS)
    Antitoksin  harus  diberikan segera setelah  dibuat  diagnosis diphtheria.
  • Sebelumnya harus dilakukan tes kulit atau tes konjungtiva dahulu.  Oleh karena pada pemberian ADS terdapat  kemungkinan  terjadinya  reaksi anafilaktik, maka harus tersedia larutan Adrenalin 1 : 1000 dalam semprit.
  • Tes kulit dilakukan  dengan penyuntikan 0,1 ml ADS dalam larutan garam fisiologis  1 : 1000 secara intrakutan. Tes positif bila dalam 20 menit terjadi indurasi > 10 mm.
  • Tes  konjungtiva dilakukan dengan meneteskan 1 tetes  larutan serum  1 : 10 dalam garam faali. Pada  mata  yang  lain diteteskan garam faali. Tes positif bila dalam 20  menit tampak gejala konjungtivitis dan lakrimasi.
  • Bila tes kulit dan konjungtiva positif, ADS  diberikan  dengan cara desensitisasi (Besredka). Bila tes hipersensitivitas tersebut di atas negatif, ADS harus diberikan sekaligus secara tetesan intravena.
  • Dosis serum anti diphtheria ditentukan secara empiris  berdasarkan  berat  penyakit, tidak tergantung  pada  berat  badan penderita, dan berkisar antara 20.000-120.000 KI.
  • Dosis ADS disesuaikan menurut derajat berat penyakit sebagai berikut :
  • 20.000 KI i.m. untuk diphtheria ringan (hidung, kulit,  konjungtiva).
  • 40.000 KI i.v. untuk diphtheria  sedang (pseudomembran terbatas pada tonsil, diphtheria laring).
  • 100.000 KI i.v. untuk diphtheria berat (pseudomembran  meluas ke luar tonsil, keadaan anak yang toksik; disertai “bullneck”, disertai penyulit akibat efek toksin).
  • Pemberian ADS secara intravena dilakukan secara tetesan dalam larutan 200 ml dalam waktu kira-kira 4-8 jam. Pengamatan terhadap  kemungkinan  efek samping  obat/reaksi  sakal  dilakukan selama  pemberian  antitoksin dan selama  2  jam  berikutnya. Demikian pula perlu dimonitor terjadinya reaksi hipersensitivitas lambat (serum sickness).
  • Perawatan bagi penyakit ini termasuk antitoksin difteri, yang melemahkan toksin dan antibiotik. Eritromisin dan penisilin membantu menghilangkan kuman dan menghentikan pengeluaran toksin.

Antimikrobial
Bukan sebagai pengganti antitoksin, melainkan untuk  menghentikan  produksi  toksin. Penisilin prokain 50.000-100.000 KI/BB/hari  selama  7-10  hari, bila  alergi  bisa  diberikan eritromisin 40 mg/kg/hari.

Kortikosteroid
kortikosteroid  diberikan  kepada  penderita  dengan   gejala obstruksi saluran nafas bagian atas dan bila terdapat  penyulit miokardiopati toksik.

Pengobatan penyulit
Pengobatan terutama ditujukan terhadap menjaga agar hemodinamika penderita tetap baik oleh karena penyulit yang  disebabkan oleh toksin pada umumnya reversibel.

Pengobatan Carrier

  • Carrier adalah mereka yang tidak menunjukkan keluhan, mempunyai reaksi Schick negatif tetapi mengandung basil  diphtheria dalam nasofaringnya.
  • Pengobatan yang dapat diberikan adalah penisilin oral  atau suntikan, atau eritromisin selama satu minggu. Mungkin diperlukan tindakan tonsilektomi/adenoidektomi.Membuat lubang pada pipa saluran pernapasan atas(tracheotomy) mungkin perlu untuk menyelamatkan nyawa. Membuat lubang pada pipa saluran pernapasan atas(tracheotomy) mungkin perlu untuk menyelamatkan nyawa. Umumnya difteri dapat dicegah melalui vaksinasi. Bayi, kanak-kanak, remaja, dan orang dewasa yang tidak mempunyai cukup pelalian memerlukan suntikan booster setiap 10 tahun.

Pencegahan :
Kebersihan dan pengetahuan tentang bahaya penyakit  ini  bagi anak-anak. Pada umumnya setelah menderita  penyakit  diphtheria  kekebalan penderita terhadap penyakit ini sangat  rendah sehingga perlu imunisasi.

Khusus
Membuat lubang pada pipa saluran pernapasan atas(tracheotomy) mungkin perlu untuk menyelamatkan nyawa.

IMUNITAS

Test kekebalan :

  • Schick  test  :  menentukan  kerentanan (suseptibilitas) terhadap diphtheria. Test dilakukan dengan menyuntikan toksin diphtheria (dilemahkan) secara intrakutan. Bila tidak terdapat  kekebalan  antitoksik akan terjadi nekrosis jaringan  sehingga test positif.
  • Moloney test  : menentukan sensitivitas  terhadap  produk kuman diphtheria. Tes  dilakukan  dengan memberikan  0,1 ml larutan fluid diphtheria toxoid  secara suntikan  intradermal. Reaksi positif bila dalam   24  jam   timbul  eritema > 10 mm. Ini berarti bahwa :pernah terpapar pada  basil diphtheria sebelumnya sehingga terjadi reaksi hipersensitivitas.
  • pemberian toksoid  diphtheria bisa mengakibatkan timbulnya  reaksi yang berbahaya.
  • Kekebalan pasif : diperoleh  secara  transplasental dari  ibu  yang  kebal  terhadap diphtheria (sampai 6 bulan) dan suntikan  antitoksin (sampai 2-3 minggu).
  • Kekebalan aktif : diperoleh dengan cara menderita  sakit atau inapparent infection dan imunisasi dengan toksoid  diphtheria.
  • Umumnya difteri dapat dicegah melalui vaksinasi. Bayi, kanak-kanak, remaja, dan orang dewasa yang tidak mempunyai cukup pelalian memerlukan suntikan booster setiap 10 tahun.

DAFTAR PUSTAKA

  • Christie AB, ed.  Infectious Diseases : Epidemiology   and clinical  practice. Edinburgh London New York :  Churchill  Livingstone,  1987; 1183-209.
  • Halsey  NA, Smith MHD. Diphtheria. In: Warren  KS, Mahmoud AAF,  eds.  Tropical and Geographical  Medicine.  International  Student  Edition. New York : Mc  Graw-Hill, 1990, 860-
  • Wharton M. In : Gershon AA, Hotez PJ, Katz SL, eds.  Krugman’s Infectious Diseases of Children. 11th ed  St. Louis : The Mosby Co, 2004 : 85-96

www.klinikanakonline.com

Provided By: KLINIK ANAK ONLINE Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 085101466102 – 085100466103 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 2961425208131592-2012 – 08131592-2013 – 08131592-2012 email : judarwanto@gmail.com http://growupclinic.com Facebook: http://www.facebook.com/GrowUpClinic Twitter: @growupclinic Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online
“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen *** We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2015, Klinik Anak Online, Information Education Network. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s