Obat Herbal Ternyata Belum Tentu Aman dan Murah

 

Obat Herbal Ternyata Belum Tentu Aman dan Murah

Obat-obatan herbal sudah ratusan bahkan ribuan tahun dipakai secara turun temurun untuk memelihara kesehatan. Saat ini penggunaan herbal cukup tinggi karena selain dianggap murah juga dianggap aman. Namun ternyata tidak semua obat herbal murah dan aman. Sebagian obat-obatan herbal ada yang aman dan banyak juga yang mahal. Obat herbal biasanya baru memberikan hasil dalam jangka panjang, karena itu obat tersebut sebaiknya hanya dipakai untuk menjaga kesehatan atau pemulihan penyakit, sedangkan untuk penyembuhan penyakit dibutuhkan obat resep dokter. 

Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar 2010 Kementrian Kesehatan RI, 59,12 orang Indonesia pernah mengonsumsi jamu atau herbal. Jenis tanaman yang berpotensi sebagai obat antara lain jahe, kunyit, temulawak, temu ireng, kencur, lengkuas, sambiloto, jati belanda, cabe jawa, dan lempuyang.

Namun pengunaan obat herbal belum bisa menggantikan obat modern. Pada umumnya reaksi obat herbal berlangsung lambat, sehingga pada kasus-kasus darurat medik obat modern lebih baik digunakan karena reaksinya lebih cepat dalam mengatasi gejala atau menghilangkan rasa sakit tertentu.

Obat modern, meski diisolasi dari bahan alam, tetapi telah melalui kaidah pengujian yang komperhensif dan lengkap sehingga khasiat dan risikonya sudah distandarasisasi dengan baik. Sebaliknya dengan obat tradisional yang merupakan warisan turun temurun dan hanya berdasarkan bukti-bukti empirik.

Untuk dapat digunakan dalam pengobatan medis modern, obat herbal memerlukan serangkaian tahapan uji klinik untuk memastikan tingkat keamanan, dosis, cara penggunaan, efikasi, monitoring efek samping dan interaksinya dengan senyawa obat lainnya. Saat ini penggunaan obat herbal saat ini baru bisa sebatas memelihara kesehatan.

Pemberian obat herbal juga sebaiknya tidak dicampurkan dengan obat modern. Pemberian obat herbal harus dihindari ketika pasien mengkonsumsi obat modern yang regimen dosisnya sangat rendah, antara lain: antihistamin, immunosupresan, obat jantung, obat antidiabetes, antikoagulan (warfarin), teofilin, obat anti retroviral, antikolesterol, dan sebagainya.

Bila ingin menggabungkan obat herbal dengan  obat modern, sebaiknya diminum berselang  antara 1-2 jam. Untuk penyakit kronis dan memiliki komplikasi berat, seperti diabetes atau kanker, sebaiknya tetap dibarengi dengan pemeriksaan oleh dokter untuk mencegah efek samping yang tidak diinginkan.

Belum Tentu Aman

Anggapan bahwa obat herbal lebih aman karena terbuat dari bahan alami, menjadi pendorong minat orang pada obat tradisional. Padahal, hal itu tak selalu benar.

Meskipun terbuat dari bahan-bahan alami, sebenarnya obat herbal juga memiliki potensi efek samping yang sama dengan obat sintetis. Ternyata di dalam obat herbal yang disarikan dari bagian-bagian tumbuhan, misalnya akar, daun, kulit, juga terkandung senyawa kimia. Kandungan senyawa yang terdapat dalam obat herbal ini, selain berkhasiat juga kemungkinan dapat menyebabkan efek samping yang dapat merugikan.

Herbal juga tidak bisa diminum sembarangan karena respons tiap individu bisa berbeda satu sama lain. Meski punya keluhan sama, belum tentu herbal yang diberikan cocok antara satu pasien dan pasien lain.

Suatu produk herbal tersebut dinyatakan aman hanya apabila sudah dapat dibuktikan secara ilmiah keamanannya melalui serangkaian uji keamanan, antara lain uji toksisitas akut, uji toksisitas  sub- akut, uji toksisitas kronik, dan uji teratogenik.

Beberapa efek yang tidak dikehendaki juga dapat terjadi apabila obat herbal dikonsumsi secara bersamaan dengan obat modern. Umumnya efek samping yang dapat ditimbulkan oleh penggunaan obat herbal yang tidak terkontrol dengan baik antara lain adalah gangguan pada ginjal, gangguan hati, fotosensitifitas, alergi, dan gangguan tidur.  Pemberian obat herbal juga dihindari pada bayi, balita dan pada lansia yang fungsi organ tubuhnya sudah menurun.

Beberapa obat herbal yang sempat menarik perhatian besar beberapa saat yang lalu, seperti buah merah, mahkota dewa, atau daun sirsak, menurut Maksum, sebenarnya sudah diteliti tetapi baru sampai pada tahapan penelitian biomedik. Pada buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa), telah diteliti adanya kandungan ilmiah yang berkhasiat sebagai antidiabetes, antioksidan, antiperadangan, dan efeknya terhadap sel kanker. Sementara pada daun sirsak diketahui memiliki efek antibakteri, antiviral, dan antikanker.

Namun, umumnya penelitian masih dilakukan pada percobaan in vitro atau in vivo pada hewan coba. Hasil percobaan secara biomedik inilah yang seringkali dijadikan dasar bahwa obat herbal dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Padahal untuk dapat digunakan dalam pengobatan, masih diperlukan serangkaian tahapan uji klinik untuk memastikan tingkat keamanan, dosis, cara penggunaan, efikasi, monitoring efek samping dan interaksinya dengan senyawa obat lainnya.

Uji toksisitas merupakan hal terpenting dalam mengembangkan dan memproduksi obat herbal. Uji toksisitas memberikan informasi tentang bahaya kesehatan akibat paparan bahan tertentu pada tubuh. Kalau hasil uji toksisitas suatu obat herbal buruk dan tidak bisa diperbaiki, sebaiknya pengembangannya tidak diteruskan.

Pengujian toksisitas akut, subkronis, dan kronis penting, biasanya obat herbal digunakan dalam jangka waktu lama. Jika pada pengujian toksisitas akut zat uji hanya diberikan satu kali atau beberapa kali pada hewan, coba dalam pengujian subkronis pemberian zat uji berulang selama 90 hari. Adapun pada uji toksisitas kronis pemberian zat berulang selama satu tahun. Peneliti melihat efek pemberian berulang pada organ seperti hati dan ginjal. Uji toksisitas subkronis dan kronis kerap dilewatkan karena perlu waktu panjang.

Tanaman yang dikembangkan sebagai obat herbal harus mempertimbangkan tujuan pengobatan. Sebagai contoh, ekstrak biji pala mengandung safrole dan myristicin. Untuk pengembangan obat diabetes, kedua zat itu harus dihilangkan karena dalam jangka panjang dapat merusak ginjal. Sebaliknya, jika untuk insomnia, kedua zat itu dibutuhkan.

Jika ingin menyejajarkan herbal dengan obat kedokteran modern yang berbahan kimia, pengujian terstandar menjadi penting agar herbal dapat digunakan secara aman. Obat herbal juga akan mudah masuk ke sistem kesehatan formal. Pengobatan kedokteran sulit memasukkan herbal sebagai terapi tanpa adanya bukti ilmiah.

Provided By

FARMASI OBAT INDONESIA Yudhasmara Foundation email : farmasiobat@gmail.com  http://farmasiobat.com  http://www.facebook.com/GrowUpClinic Creating-hashtag-on-twitter@growupclinic

Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 97730777email : judarwanto@gmail.com   http://growupclinic.com http://www.facebook.com/GrowUpClinic Creating-hashtag-on-twitter@growupclinic
“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Growth Development Behaviour Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***
Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967  Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com curriculum vitae Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035

We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2013, Farmasi Obat,  Information Education Networking.  All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s