MERS-CoV Ancam Indonesia, Pengobatan dan Pencegahannya

MERS-CoV Ancam Indonesia, Pengobatan dan Pencegahannya

Flu Arab atau MERS-CoV (Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus) penyakit berbahaya yang disebabkan oleh infeksi virus Corona, salah satu jenis virus yang masih berkerabat dengan virus penyebab SARS.  Gejalanya pun tak jauh berbeda dengan penyakit SARS, dengan indikasi utama seperti demam, bersin, dan batuk, yang akhirnya berujung pada kematian akibat beberapa komplikasi serius yang terjadi seperti Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dengan kegagalan multiorgan, gagal ginjal, koagulopati konsumtif, dan perikarditis serta pneumonia berat. Hingga saat ini MERS terus berkembang dan telah menginfeksi lebih dari 361 orang dan membunuh 22 orang dari seluruh dunia. Arab Saudi mengumumkan pada Kamis (2/5) bahwa jumlah kasus penderita middle east respiratory syndrome (MERS-coV) bertambah dua kali lipat. Sebanyak 36 kasus telah dilaporkan dalam tiga hari terakhir.

MERS pertama kali dilaporkan pada tahun 2012 di Arab Saudi. Pernyataan WHO pada 17 Juli 2013 pada pertemuan IHR Emergency Committee mengenai MERS CoV menyatakan bahwa MERS-CoV merupakan situasi serius dan perlu perhatian besar namun belum terjadi kejadian darurat kesehatan masyarakat. Status darurat kesehatan atau “Public health emergency of international concern” (PHEIC) akan diberikan jika virus tersebut meluas ke negara-negara lain namun sejak dilaporkan munculnya virus tersebut pada September 2012-1 Agustus 2013 semua kasus tersebut masih berhubungan dengan negara-negara di Jazirah Arab, baik secara langsung maupun tidak langsung. Jumlah kasus MERS-CoV yang terkonfirmasi sebanyak 94 kasus dan meninggal 47 orang dengan sembilan negara yang melaporkan kasus ini yaitu Prancis, Italia, Yordania, Qatar, Arab Saudi, Tunisia, Jerman, Inggris dan Uni Emirat Arab. Dengan persentase kematian (CFR/Case Fatality Rate) mencapai 50 persen, MERS-CoV menjadi salah satu ancaman terutama menjelang musim haji.

Virus ini berbeda dengan coronavirus lain yang telah ditemukan sebelumnya, sehingga kelompok studi corona virus dari Komite Internasional untuk Taksonomi Virus memutuskan bahwa novel corona virus tersebut dinamakan sebagai MERS-Cov. Virus ini tidak sama dengan corona virus penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), namun mirip dengan corona virus yang terdapat pada kelelawar.

Pada kurun waktu tiga bulan, sejak April s.d Juni 2013, jumlah infeksi MERS-Cov di dunia tercatat sebanyak 64 kasus (Saudi Arabia 49 kasus, Italia 3 kasus, United Kingdom 3 kasus, Perancis 2 kasus, Jordania 2 kasus, Qatar 2 kasus, Tunisia 2 kasus, dan Uni Emirat Arab 1 kasus) dengan 38 kematian.

Koronavirus adalah virus dari famili coronavida yang bisa menyebabkan berbagai macam penyakit. Koronavirus terbagi menjadi tiga golongan. Golongan satu dan dua yang menginfeksi mamalia, dan golongan tiga yang menginfeksi burung. Penyakit yang disebabkan oleh koronavirus sangat bervariasi, mulai dari flu biasa hingga penyakit pernapasan yang mematikan seperti SARS dan MERS.

MERS merupakan koronavirus yang berbeda dengan yang pernah ditemukan pada manusia sebelumnya, berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention. Tes laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk MERS-Cov tersedia di Kementerian Kesehatan dan beberapa laboratorium internasional, namun tes tersebut bukan tes rutin.

Manifestasi Klinis

  • Beberapa gejala yang diakibatkan oleh koronavirus MERS adalah demam, batuk, napas yang pendek-pendek, serta munculnya pneumonia dalam beberapa kasus. MERS merupakan salah satu bentuk koronavirus yang masih misterius. Hingga saat ini peneliti masih mencari tahu bagaimana koronavirus baru ini bisa menginfeksi manusia.
  • Sebagian besar orang yang terinfeksi MERS-Cov berkembang menjadi penyakit saluran pernapasan berat dengan gejala gejala demam, batuk, dan napas pendek. Sekitar separuh dari jumlah penderita meninggal. Sebagian dari penderita dilaporkan menderita penyakit saluran pernapasan tingkat sedang.
  • Mula-mula gejalanya mirip seperti flu dan bisa mencakup: demam, myalgia, lethargy, gejala gastrointestinal, batuk, radang tenggorokan dan gejala non-spesifik lainnya. Satu-satunya gejala yang sering dialami seluruh pasien adalah demam di atas 38 °C (100.4 °F). Sesak napas bisa terjadi kemudian.Gejala tersebut biasanya muncul 2–10 hari setelah terekspos, tetapi sampai 13 hari juga pernah dilaporkan terjadi. Pada kebanyakan kasus gejala biasanya muncul antara 2–3 hari. Sekitar 10–20% kasus membutuhkan ventilasi mekanis.
  • Awalnya tanda fisik tidak begitu kelihatan dan mungkin tidak ada. Beberapa pasien akan mengalami tachypnea dan crackle pada auscultation. Kemudian, tachypnea dan lethargy kelihatan jelas.

Penyebaran Virus Corona

  • Sampai saat ini, masih terus dilakukan investigasi mengenai pola penularan MERS-Cov, karena telah ditemukan adanya penularan dari manusia ke manusia yang saling kontak dekat dengan penderita. Penularan dari pasien yang terinfeksi kepada petugas kesehatan yang merawat juga diamati. Selain itu, cluster dari kasus infeksi MERS-Cov di Arab Saudi, Jordania, the United Kingdom, Prancis, Tunisia, dan Italia juga diinvestigas
  • Data terbaru dari CDC menunjukkan bahwa MERS terbukti bisa ditularkan antar manusia. Meski begitu, tampaknya penyakit ini tak bisa menyebar sangat cepat seperti SARS pada tahun 2003. Virus MERS terus mendapatkan pengawasan ketat dari para ahli untuk berjaga-jaga jika virus ini berkembang menjadi ancaman yang semakin berbahaya.
  • Karena penyebarannya yang semakin meluas sejak April 2012 hingga awal tahun 2013, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan peringatan sejak Mei lalu untuk mewaspadai ancaman penyebarannya.
  • Belum diketahui dengan jelas asal mula virus ini menyebar, namun, beberapa peneliti menduga bahwa penyebaran virus berasal dari salah satu jenis Kelelawar yang banyak ditemukan di kawasan Timur Tengah.
  • Kesimpulan dicapai setelah para peneliti menemukan adanya kecocokan genetik 100 persen pada virus yang menginfeksi kelelawar jenis tersebut dengan manusia pertama yang terinfeksi.
  • Spekulasi lain yang terdapat di kalangan para peneliti menyebutkan bahwa selain Kelelawar, Unta juga diduga kuat berkaitan dengan asal mula dan penyebaran virus Corona, dimana ditemukan antibodi terhadap virus ini dalam tubuh hewan khas Timur Tengah itu.
  • Mekanisme penyebaran virus Corona dari hewan ke manusia masih diteliti sampai saat ini, meskipun ada dugaan bahwa manusia pertama yang terinfeksi mungkin pernah secara tidak sengaja menghirup debu kotoran kering Kelelawar yang terinfeksi.
  • Saat ini, para peneliti masih menyelidiki kemungkinan hewan lain yang menjadi mediator penularan virus Corona guna menangani meluasnya penyebaran penyakit ini, mengingat bahwa jenis virus ini dikatakan lebih mudah menular antar-manusia dengan dampak yang lebih mematikan dibandingkan SARS.

Penanganan

  • Hingga saat ini belum ada vaksin yang spesifik dapat mencegah infeksi MERS-Cov. Selain itu, belum ditemukan juga metode pengobatan yang secara spesifik dapat menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh MERS-Cov. Perawatan medis hanya bersifat supportive untuk meringankan gejala.
  • Pengobatan para penderita SARS biasanya dilakukan dengan perawatan intensif di rumah sakit, terutama jika terjadi sesak napas. Penderita akan ditempatkan di ruang isolasi agar tidak menyebarkan virus ke mana-mana.
  • Penderita yang dicurigai harus diisolasi, lebih baiknya di ruangan tekanan negatif, dengan kostum pengaman lengkap untuk segala kontak apapun dengan pasien.
  • Antibiotik masih belum efektif. Pengobatan hingga kini masih bergantung pada anti-pyretic, supplemen oksigen dan bantuan ventilasi.
  • Penggunaan steroid dan antiviral drug ribavirin, namun tidak ada bukti yang mendukung terapi ini. Sekarang banyak juru klinik yang mencurigai ribavirin tidak baik bagi kesehatan.
  • Ilmuwan kini sedang mencoba segala obat antiviral untuk penyakit lain seperti AIDS, hepatitis, influenza dan lainnya pada coronavirus.
  • Ada keuntungan dari penggunaan steroid dan immune system modulating agent lainnya pada pengobatan pasien yang parah karena beberapa bukti menunjukkan sebagian dari kerusakan serius yang disebabkan oleh reaksi yang berlebihan oleh sistem kekebalan tubuh terhadap virus. Penelitian masih berlanjut pada area ini.

Pencegahan

  • Masyarakat tetap bisa melakukan perjalanan atau berkunjung ke negara-negara Arabia Peninsula dan sekitarnya, karena World Health Organization (WHO) dan Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat tidak akan mengeluarkan surat travel warning tentang kesehatan kepada negara-negara yang terkait dengan MERS-Cov.
  • Karena situasi penyakit MERS-CoV mungkin saja berubah secara cepat dari hari ke hari, sehingga bila berencana umroh atau bepergian ke jazirah Arab maka selalu ikuti berita akurat mutakhir tentang perkembangan MERS-CoV
  • Hal yang perlu diantisipasi oleh masyarakat yang akan berpergian ke negara-negara tersebut, bila selama di Arab ada keluhan batuk, demam dll (sesak) yang cepat (dalam 1-2 hari) memburuk, maka segera konsultasi pada petugas kesehatan. Bila dalam kurun waktu 14 ‎hari sampai di tanah air mengalami keluhan2 batuk, demam dll (sesak) yang cepat (dalam 1-2 hari) memburuk, maka segera konsultasi pada petugas kesehatan, dan beritahu petugas kesehatan bahwa anda baru kembali dari Arab.
  • Belum ada vaksin khusus yang dapat mencegah terjadinya penyakit ini.
  • Pencegahan tetap dapat dilakukan dengan memperkuat imunitas tubuh.
  • Tutuplah hidung dan mulut dengan tisu ketika batuk ataupun bersin dan segera buang tisu tersebut ke tempat sampah
  • Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang belum dicuci
  • Menghindari kontak erat dengan penderita, menggunakan masker, menjaga kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan dengan sabun dan menerapkan etika batuk ketika sakit
  • Gunakan masker dan jaga sanitasi tubuh dan lingkungan.
  • Tindakan isolasi dan karantina mungkin dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit MERS-CoV.
  • Hindari bepergian atau naik kendaraan umum namun jika terpaksa maka jangan menutup jendela atau pintu
  • Hindarilah tempat-tempat umum dan ramai khususnya di daerah dekat rumah sakit, internet cafe, tempat-tempat nongkrong, bioskop, dan perpustakaan, jika kamu melakukannya maka pakailah masker dan cucilah tangan anda secara bersih dan teratur.
  • Hindarilah mengunjungi pasien dan periksa ke dokter di rumah sakit khususnya yang ada pasien MERS. Hindari kontak secara dekat dengan orang yang sedang menderita sakit, misalnya ciuman atau penggunaan alat makan/minum bersama
  • Cuci tangan dengan sabun dan jangan menyentuh mulut, hidung, dan mata dengan tangan telanjang
  • Jagalah keseimbangan gizi diet dan hendalah berolahraga secara teratur untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita
  • Anak-anak yang sistem kekebalan tubuhnya melemah harus memakai masker sepanjang waktu untuk menhindari menyebarnya cairan tubuh seperti ludah/air liur
  • Bagi manusia dewasa dengan kekbalan tubuh menurun seperti  memiliki penyakit kronis seperti diabetes mellitus (DM), penyakit Asma dan paru kronis maupun gangguan ginjal untuk melakukan check up ke dokter sebelum bepergian dan diharapkan dapat mengonsumsi obat rutinnya secara teratur
  • Periksalah suhu badan secara teratur dan tetaplah hati-hati dengan kondisi kesehatan
  • Menjaga sirkulasi udara di kamar
  • Bersihkan menggunakan desinfektan untuk membersihkan barang-barang yang sering disentuh. Gunakan pemutih ( bleach ) yang tersedia di pasar (dengan kandungan kimia 8-12%).  Ini adalah cara paling murah dan efektif mematikan kuman. Persiapan: Pakailah sarung tangan anti air, Campurlah pemutih dengan air dengan ukuran 1:100 (pemutih/bleach:air/water).  Bersihkanlah tempat-tempat yang sering dilewati orang secara teratur dan selama masa penyebaran virus, lebih baik bersihkanlah/basmilah kuman rumah Anda setiap hari.
  • Bila bisa menjaga diri, memakai masker dan mencuci tangan secara teratur, dilanjutkan dengan instruksi karantina maka dapat menghindari infeksi.  Tidak perlu terlalu panik atau mendiskriminasi tersangka atau penderita.

REFERENSI

  • World Health Organization Global Alert and Response (GAR). Coronavirus infections. http://www.who.int/csr/disease/coronavirus_infections/en/
  • World Health Organization. Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV)—update, 2013 [cited 2013 Dec 10]. http://www.who.int/csr/don/2013_06_26/en/index.html
  • World Health Organization 2012. Global Alert and Response (GAR). Background and summary of novel coronavirus infection—as of 21 December 2012. http://www.who.int/csr/disease/coronavirus_infections/update_20121221/en/index.html.
  • European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) 2012. Communicable Disease Threats Report, Week 18, 29 April–5 May 2012, p 2 Severe respiratory disease of unknown origin—Jordan—outbreak in ICU. http://www.ecdc.europa.eu/en/publications/Publications/CDTR%20online%20version%204%20May%202012.pdf.
  • Annan A, Baldwin HJ, Corman VM, Klose SM, Owusu M, Nkrumah EE, Badu EK, Anti P, Agbenyega O, Meyer B, Oppong S, Sarkodie YA, Kalko EK, Lina PH, Godlevska EV, Reusken C, Seebens A, Gloza-Rausch F, Vallo P, Tschapka M, Drosten C, Drexler JF. 2013. Human betacoronavirus 2c EMC/2012-related viruses in bats, Ghana and Europe. Emerg. Infect. Dis. 19:456–459.
  • Woo PC, Lau SK, Huang Y, Yuen KY. 2009. Coronavirus diversity, phylogeny and interspecies jumping. Exp. Biol. Med. 234:1117–1127.
  • Zaki A. 2012. Novel coronavirus—Saudi Arabia: human isolate. Int. Soc. Infect. Dis. ProMED-mail. http://www.promedmail.org/direct.php?id=20120920.1302733.
  • Zaki AM, van Boheemen S, Bestebroer TM, Osterhaus AD, Fouchier RA. 2012. Isolation of a novel coronavirus from a man with pneumonia in Saudi Arabia. N. Engl. J. Med. 367:1814–1820. 
  • van Boheemen S, de Graaf M, Lauber C, Bestebroer TM, Raj VS, Zaki AM, Osterhaus AD, Haagmans BL, Gorbalenya AE, Snijder EJ, Fouchier RA. 2012. Genomic characterization of a newly discovered coronavirus associated with acute respiratory distress syndrome in humans. mBio. 3:e00473.10.1128/mBio.00473-12
  • Bermingham A, Chand MA, Brown CS, Aarons E, Tong C, Langrish C, Hoschler K, Brown K, Galiano M, Myers R, Pebody RG, Green HK, Boddington NL, Gopal R, Price N, Newsholme W, Drosten C, Fouchier RA, Zambon M. 2012. Severe respiratory illness caused by a novel coronavirus, in a patient transferred to the United Kingdom from the Middle East, September 2012. Euro Surveill. 17:20290 http://www.eurosurveillance.org/ViewArticle.aspx?ArticleId=20290
  • Health Protection Agency (HPA) UK Novel Coronavirus Investigation team 2013. Evidence of person-to-person transmission within a family cluster of novel coronavirus infections, United Kingdom, February 2013. Euro Surveill. 18:20427.http://www.eurosurveillance.org/ViewArticle.aspx?ArticleId=20427
  • Cotten ML, Lam TT, Watson SJ, Palser AL, Petrova V, Grant P, Pybus OG, Rambaut A, Guan Y, Pillay D, Kellam P, Nastouli E. 2013. Full-genome deep sequencing and phylogenetic analysis of novel human betacoronavirus. Emerg. Infect. Dis. 19:736–742.
  • de Groot RJ, Baker SC, Baric R, Enjuanes L, Gorbalenya AE, Holmes KV, Perlman S, Poon L, Rottier PJM, Talbot PJ, Woo PCY, Ziebuhr J. 2012. Family Coronaviridae, p 806–828 King A, Adams M, Cartens E, Lefkowitz E, editors. (ed), Virus taxonomy: ninth report of the International Committee on Taxonomy of Viruses Academic Press, San Diego, CA.
  • Reusken CB, Lina PH, Pielaat A, de Vries A, Dam-Deisz C, Adema J, Drexler JF, Drosten C, Kooi EA. 2010. Circulation of group 2 coronaviruses in a bat species common to urban areas in Western Europe. Vector Borne Zoonotic Dis. 10:785–791. 
  • Falcón A, Vázquez-Morón S, Casas I, Aznar C, Ruiz G, Pozo F, Perez-Breña P, Juste J, Ibáñez C, Garin I, Aihartza J, Echevarría JE. 2011. Detection of alpha and betacoronaviruses in multiple Iberian bat species. Arch. Virol. 156:1883–1890.
  • Drosten C, Seilmaier M, Corman VM, Hartmann W, Scheible G, Sack S, Clinical features and virological analysis of a case of Middle East respiratory syndrome coronavirus infection. Lancet Infect Dis. 2013;13:74551.
  • Cauchemez S, Van Kerkhove MD, Riley S, Donnelly CA, Fraser C, Ferguson NM. Transmission scenarios for Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) and how to tell them apart. Euro Surveill. 2013;18:20503.
  • Cotten M, Watson SJ, Kellam P, Al-Rabeeah AA, Makhdoom HQ, Assiri A, Transmission and evolution of the Middle East respiratory syndrome coronavirus in Saudi Arabia: a descriptive genomic study. Lancet. 2013;382:19932002.
  • Woo PC, Lau SK, Lam CS, Lau CC, Tsang AK, Lau JH, Discovery of seven novel mammalian and avian coronaviruses in the genus deltacoronavirus supports bat coronaviruses as the gene source of alphacoronavirus and betacoronavirus and avian coronaviruses as the gene source of gammacoronavirus and deltacoronavirus. J Virol. 2012;86:39954008.
  • Drexler JF, Gloza-Rausch F, Glende J, Corman VM, Muth D, Goettsche M, Genomic characterization of SARS-related coronavirus in European bats and classification of coronaviruses based on partial RNA-dependent RNA polymerase gene sequences. J Virol. 2010;84:1133649.
  • van Boheemen S, de Graaf M, Lauber C, Bestebroer TM, Raj VS, Zaki AM, Genomic characterization of a newly discovered coronavirus associated with acute respiratory distress syndrome in humans. MBio. 2012;3:e0047312.
  • Ithete NL, Stoffberg S, Corman VM, Cottontail VM, Richards LR, Schoeman MC, Close relative of human middle East respiratory syndrome coronavirus in bat, South Africa. Emerg Infect Dis. 2013;19:16979.
  • Reusken CB, Haagmans BL, Muller MA, Gutierrez C, Godeke GJ, Meyer B, Middle East respiratory syndrome coronavirus neutralising serum antibodies in dromedary camels: a comparative serological study. Lancet Infect Dis. 2013;13:85966.
  • Perera RA, Wang P, Gomaa M, El-Shesheny R, Kandeil A, Bagato O, Seroepidemiology for MERS coronavirus using microneutralisation and pseudoparticle virus neutralisation assays reveal a high prevalence of antibody in dromedary camels in Egypt, June 2013. Euro Surveill. 2013;18:20574.
  • Woo PC, Lau SK, Li KS, Poon RW, Wong BH, Tsoi HW, Molecular diversity of coronaviruses in bats. Virology. 2006;351:1807.
  • Pfefferle S, Oppong S, Drexler JF, Gloza-Rausch F, Ipsen A, Seebens A, Distant relatives of severe acute respiratory syndrome coronavirus and close relatives of human coronavirus 229E in bats, Ghana. Emerg Infect Dis. 2009;15:137784.
  • Gloza-Rausch F, Ipsen A, Seebens A, Gottsche M, Panning M, Felix Drexler J, Detection and prevalence patterns of group I coronaviruses in bats, northern Germany. Emerg Infect Dis. 2008;14:62631.
  • Buchholz U, Muller MA, Nitsche A, Sanewski A, Wevering N, Bauer-Balci T, Contact investigation of a case of human novel coronavirus infection treated in a German hospital, October–November 2012. Euro Surveill. 2013;18:20406.
  • Aburizaiza AS, Mattes FM, Azhar EI, Hassan AM, Memish ZA, Muth D, Investigation of anti–Middle East respiratory syndrome antibodies in blood donors and slaughtethouse workers in Jeddah and Makkah, Saudi Arabia, fall 2013. [Epub ahead of print]. J Infect Dis. 2013.External Web Site Icon
  • Jin L, Cebra CK, Baker RJ, Mattson DE, Cohen SA, Alvarado DE, Analysis of the genome sequence of an alpaca coronavirus. Virology. 2007;365:198203.
  • Wünschmann A, Frank R, Pomeroy K, Kapil S. Enteric coronavirus infection in a juvenile dromedary (Camelus dromedarius). J Vet Diagn Invest. 2002;14:4414.
  • van der Linden RH, Frenken LG, de Geus B, Harmsen MM, Ruuls RC, Stok W, Comparison of physical chemical properties of llama VHH antibody fragments and mouse monoclonal antibodies. Biochim Biophys Acta. 1999;1431:3746.
  • Hamers-Casterman C, Atarhouch T, Muyldermans S, Robinson G, Hamers C, Songa EB, Naturally occurring antibodies devoid of light chains. Nature. 1993;363:4468.
  • Reusken C, Mou H, Godeke GJ, van der Hoek L, Meyer B, Muller MA, Specific serology for emerging human coronaviruses by protein microarray. Euro Surveill. 2013;18:20441 .
  • FAOSTAT. 2013 [cited 2013 Dec16]. http://faostat3.fao.org/faostat-gateway/go/to/download/Q/QA/EExternal Web Site Icon
  • CVRL. 26th annual report 2012. 2013 [cited 2013 Dec 16]. http://www.cvrl.ae/%5Can%5Canrp%5C2012%5CANRP2012.pdf 
  • Corman VM, Eckerle I, Bleicker T, Zaki A, Landt O, Eschbach-Bludau M, Detection of a novel human coronavirus by real-time reverse-transcription polymerase chain reaction. Euro Surveill. 2012;17:20285.
  • Annan A, Baldwin HJ, Corman VM, Klose SM, Owusu M, Nkrumah EE, Human betacoronavirus 2c EMC/2012-related viruses in bats, Ghana and Europe. Emerg Infect Dis. 2013;19:4569.
  • Corman VM, Muller M, Costabel U, Timm J, Binger T, Meyer B, Assays for laboratory confirmation of novel human coronavirus (hCoV-EMC) infections. Euro Surveill. 2012;17:20334.
  • de Souza Luna LK, Heiser V, Regamey N, Panning M, Drexler JF, Mulangu S, Generic detection of coronaviruses and differentiation at the prototype strain level by reverse transcription–PCR and nonfluorescent low-density microarray. J Clin Microbiol. 2007;45:104952.
  • Hofmann H, Pyrc K, van der Hoek L, Geier M, Berkhout B, Pohlmann S. Human coronavirus NL63 employs the severe acute respiratory syndrome coronavirus receptor for cellular entry. Proc Natl Acad Sci U S A. 2005;102:798893.
  • Anthony SJ, Ojeda-Flores R, Rico-Chavez O, Navarrete-Macias I, Zambrana-Torrelio CM, Rostal MK, Coronaviruses in bats from Mexico. J Gen Virol. 2013;94:102838.
  • Wacharapluesadee S, Sintunawa C, Kaewpom T, Khongnomnan K, Olival KJ, Epstein JH, Group C betacoronavirus in bat guano fertilizer, Thailand. Emerg Infect Dis. 2013;19:134951.
  • Drexler JF, Gloza-Rausch F, Glende J, Corman VM, Muth D, Goettsche M, Genomic characterization of severe acute respiratory syndrome-related coronavirus in European bats and classification of coronaviruses based on partial RNA-dependent RNA polymerase gene sequences. J Virol. 2010;84:1133649.
  • Ge XY, Li JL, Yang XL, Chmura AA, Zhu G, Epstein JH, Isolation and characterization of a bat SARS-like coronavirus that uses the ACE2 receptor. Nature. 2013;503:5358.
  • Gerna G, Cereda PM, Revello MG, Cattaneo E, Battaglia M, Gerna MT. Antigenic and biological relationships between human coronavirus OC43 and neonatal calf diarrhoea coronavirus. J Gen Virol. 1981;54:91102.
  • Müller MA, Raj VS, Muth D, Meyer B, Kallies S, Smits SL, Human coronavirus EMC does not require the SARS-coronavirus receptor and maintains broad replicative capability in mammalian cell lines. MBio. 2012;3:e0051512.
  • Raj VS, Mou H, Smits SL, Dekkers DH, Muller MA, Dijkman R, Dipeptidyl peptidase 4 is a functional receptor for the emerging human coronavirus-EMC. Nature. 2013;495:2514.
  • Chan CM, Tse H, Wong SS, Woo PC, Lau SK, Chen L, Examination of seroprevalence of coronavirus HKU1 infection with S protein-based ELISA and neutralization assay against viral spike pseudotyped virus. J Clin Virol. 2009;45:5460.
  • Horzinek MC, Lutz H, Pedersen NC. Antigenic relationships among homologous structural polypeptides of porcine, feline, and canine coronaviruses. Infect Immun. 1982;37:114855.

Provided By

FARMASI OBAT INDONESIA
Yudhasmara Foundation www.obatindonesia.com Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 97730777email : judarwanto@gmail.com   http://growupclinic.com http://www.facebook.com/GrowUpClinicCreating-hashtag-on-twitter@growupclinic
“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Growth Development Behaviour Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***
Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967  Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com curriculum vitae Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035 We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider
Copyright © 2014, Farmasi Obat,  Information Education Networking.  All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s