Permasalahan Gangguan Belajar Disleksia Pada Anak Dan Penanganannya

Disleksia adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis. Pada umumnya keterbatasan ini hanya ditujukan pada kesulitan  seseorang dalam membaca dan menulis, akan tetapi tidak terbatas dalam  perkembangan kemampuan standar yang lain seperti kecerdasan, kemampuan menganalisa dan juga daya sensorik pada indera perasa. 

Terminologi disleksia juga digunakan untuk merujuk kepada kehilangan  kemampuan membaca pada seseorang dikarenakan akibat kerusakan pada otak. Disleksia pada tipe ini sering disebut sebagai Aleksia.  Selain mempengaruhi kemampuan membaca dan menulis, disleksia juga  ditengarai juga mempengaruhi kemampuan berbicara pada beberapa  pengidapnya.

Penderita disleksia secara fisik tidak akan terlihat sebagai  penderita. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang  untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga  dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah, kiri dan  kanan, dan sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori  pada otak. Hal ini yang sering menyebabkan penderita disleksia dianggap  tidak konsentrasi dalam beberapa hal. Dalam kasus lain, ditemukan pula  bahwa penderita tidak dapat menjawab pertanyaan yang seperti uraian,  panjang lebar.

Sejumlah ahli juga mendefinisikan disleksia sebagai suatu kondisi pemrosesan input atau  informasi yang berbeda (dari anak normal) yang sering kali ditandai  dengan kesulitan dalam membaca yang dapat memengaruhi area kognisi,  seperti daya ingat, kecepatan pemrosesan input, kemampuan  pengaturan waktu, aspek koordinasi, dan pengendalian gerak. Dapat juga  terjadi kesulitan visual dan fonologis, dan biasanya terdapat perbedaan  kemampuan di berbagai aspek perkembangan.

Faktor resiko  tanpa memandang jenis kelamin, suku bangsa atau latar belakang  sosio-ekonomi-pendidikan tampaknya tidak berkaitan dengan penderita Disleksia. bisa mengalami disleksia. Tetapi  riwayat  keluarga dengan disleksia merupakan factor risiko terpenting karena  23-65% orangtua disleksia mempunyai anak disleksia juga.

Pada  awalnya anak lelaki dianggap lebih banyak menyandang disleksia, tapi  penelitian – penelitian terkini menunjukkna tidak ada perbedaan  signifikan antara jumlah laki dan perempuan yang menglami disleksia.  Namun karena sifat perangai laki-laki lebih kentara jika terdapat  tingkah laku yang bermasalah, maka sepertinya kasus disleksia pada  laki-laki lebih sering dikenali dibandingkan pada perempuan.

Para peneliti menemukan disfungsi ini disebabkan oleh kondisi dari biokimia otak yang tidak stabil dan juga dalam beberapa hal akibat bawaan keturunan dari orang tua.

Secara umum disleksi dibagi sebagai disleksia sebagai  visiual, disleksia auditori dan disleksia kombinasi (visual-auditori).  Sebagian ahli lain membagi disleksia berdasarkan apa yang dipersepsi  oleh mereka yang mengalaminya yaitu persepsi pembalikan konsep (suatu  kata dipersepsi sebagai lawan katanya), persepsi disorientasi vertical  atau horizontal (huruf atau kata berpindah tempat dari depan ke belakang  atau  sebaliknya, dari barisan atas ke barisan bawah dan sebaliknya),  persepsi teks terlihat terbalik seperti di dalam cermin, dan persepsi di  mana huruf atau kata-kata tertentu jadi seperti “ menghilang.”

Ada dua tipe disleksia, yaitu developmental dyslexsia (bawaan sejak lahir) dan aquired dyslexsia (didapat karena gangguan atau perubahan cara otak kiri membaca). Developmental dyslexsia diderita sepanjang hidup pasien dan biasanya bersifat genetik. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penyakit ini berkaitan dengan disfungsi daerah abu-abu pada otak.  Disfungsi tersebut berhubungan dengan perubahan konektivitas di area  fonologis (membaca). Beberapa tanda-tanda awal disleksia bawaan adalah  telat berbicara, artikulasi tidak jelas dan terbalik-balik, kesulitan  mempelajari bentuk dan bunyi huruf-huruf, bingung antara konsep ruang  dan waktu, serta kesulitan mencerna instruksi verbal, cepat, dan  berurutan. Pada usia sekolah, umumnya penderita disleksia dapat  mengalami keuslitan menggabungkan huruf menjadi kata, kesulitan membaca,  kesulitan memegang alat tulis dengan baik, dan kesulitan dalam  menerima.

Penelitian  retrospektif menunjukkan disleksia merupakan suatu keadaan yang menetap  dan kronis. “Ketidak mampuannya” di masa anak yang nampak seperti  “menghilang” atau “berkurang” di masa dewasa bukanlah kareana disleksia  nya telah sembuh namun karena individu tersebut berhasil menemukan  solusi untuk mengatasi kesulitan yang diakibatkan oleh disleksia nya  tersebut.

Mengingat  demikian “kompleks”nya keadaan disleksia ini, maka sangat disarankan  bagi orang tua yang merasa anaknya menunjukkan tanda-tanda seperti  tersebut di atas, agar segera membawa anaknya berkonsultsi kepada tenaga  medis profesional yang kapabel di bidang tersebut. Karena semakin dini  kelainan ini  dikenali, semakin “mudah” pula  intervensi yang dapat dilakukan, sehingga anak tidak terlanjur larut  dalam kondisi yang lebih parah.

Tokoh-tokoh terkenal yang diketahui mempunyai disfungsi disleksia adalah

  • Albert Einstein, Tom Cruise, Orlando Bloom, Whoopi Goldberg, dan Vanessa Amorosi, Orlando Bloom, Cher, Steve Jobs, Walt Disney, Erin Brockovitch , Thomas Edison, Tracey Gold, General George Patton, Salma Hayek, Nelson Rockefeller, Jewel, Pablo Picasso, Keira Knightley,  Hans Christian Anderson, Leonardo da Vinci,  John Lennon, Alexander Graham Bell, Thomas Jefferson, John F. Kennedy, George Washington, Mohammad Ali, Steven Spielberg

Pada masa usia prasekolah ini dapat diperinci  menjadi dua masa, yaitu masa vital dan masa estetik

  1. Masa Vital. Pada  masa ini, individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan  berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar, Freud menamakan tahun  pertama dalam kehidupan individu itu sebagai masa oral (mulut), karena  mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan anak memasukkan apa saja yang  dijumpai ke dalam mulutnya itu, tidaklah karena mulut sumber kenikmatan  utama, tetapi karena waktu itu mulut merupakan alat untuk melakukan  eksplorasi (penelitian) dan belajar.
  2. Masa Estetik. Pada masa ini dianggap sebagai masa perkembangan rasa  keindahan. Kata estetik di sini dalam arti bahwa pada masa ini,  perkembangan anak yang terutama adalah fungsi panca inderanya. Kegiatan  eksploitasi dan belajar anak terutama menggunakan panca inderanya, pada  masa ini, indera masih peka, karena itu Montessori menciptakan  bermacam-macam alat permainan untuk melatih panca inderanya.

Karakteristik Disleksia

  • Tanda-tanda disleksia bisa dideteksi sejak dini. Pada usia  prasekolah, pengidap disleksia biasanya kidal atau tak mahir jika cuma  memakai satu tangan, bingung atau sering tertukar kanan dan kiri. Selain  itu, mereka suka tergesa-gesa, miskin kosakata, atau kesulitan memilih  terminologi atau nama yang tepat. Misalnya, “Saya tak mau berenang  karena kolamnya tebal,” (baca: dalam) atau “Kemarin saya diberi kue sama  si itu.”
  • Pada usia 5-8 tahun, hal itu ditandai dengan kesulitan  mempelajari huruf dan bunyinya, menggabungkan huruf menjadi kata,  membaca, dan memegang alat tulis. “Pada umur 7 tahun seharusnya bisa  menguasai huruf. Jika pada umur 8-9 tahun masih tak bisa, dimungkinkan  disleksia,” kata dia.
  • Tanda lain adalah kebingungan soal konsep  ruang dan waktu serta kesulitan mencerna perintah yang disampaikan  secara verbal, cepat, dan berurutan. Namun, yang patut dipahami adalah  disleksia bukan karena si penyandang bodoh. Beberapa penyandang  disleksia justru orang yang brilian.
  • Terdapat hambatan dalam masalah fonologi: Yang dimaksud masalah fonologi adalah hubungan  sistematik antara huruf dan bunyi. Misalnya mereka mengalami kesulitan  membedakan ”paku” dengan ”palu”; atau mereka keliru memahami kata-kata  yang mempunyai bunyi hampir sama, misalnya ”lima puluh” dengan ”lima  belas”. Kesulitan ini tidak disebabkan masalah pendengaran, tetapi  berkaitan dengan proses pengolahan input di dalam otak.
  • Terdapat hambatan dalam masalah mengingat perkataan: Kebanyakan anak disleksia mempunyai level  kecerdasan normal atau di atas normal. Namun, mereka mempunyai  kesulitan mengingat perkataan. Mereka mungkin sulit menyebutkan nama  teman-temannya dan memilih untuk memanggilnya dengan istilah “temanku di  sekolah” atau “temanku yang laki-laki itu”. Mereka mungkin dapat  menjelaskan suatu cerita, tetapi tidak dapat mengingat jawaban untuk  pertanyaan yang sederhana.
  • Terdapat hambatan dalam masalah penyusunan yang  sistematis atau berurut: Anak disleksia mengalami kesulitan menyusun  sesuatu secara berurutan misalnya susunan bulan dalam setahun, hari  dalam seminggu, atau susunan huruf dan angka. Mereka sering ”lupa”  susunan aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya, misalnya lupa  apakah setelah pulang sekolah langsung pulang ke rumah atau langsung  pergi ke tempat latihan sepak bola. Padahal, orangtua sudah  mengingatkannya bahkan mungkin hal itu sudah pula ditulis dalam agenda  kegiatannya. Mereka juga mengalami kesulitan yang berhubungan dengan  perkiraan terhadap waktu. Misalnya mereka mengalami kesulitan memahami  instruksi seperti ini: ”Waktu yang disediakan untuk ulangan adalah 45  menit. Sekarang pukul 08.00. Maka 15 menit sebelum waktu berakhir, Ibu  Guru akan mengetuk meja satu kali”. Kadang kala mereka pun ”bingung”  dengan perhitungan uang yang sederhana, misalnya mereka tidak yakin  apakah uangnya cukup untuk membeli sepotong kue atau tidak.
  • Terdapat hambatan dalam masalah ingatan jangka pendek: Anak disleksia mengalami kesulitan  memahami instruksi yang panjang dalam satu waktu yang pendek. Misalnya  ibu menyuruh anak untuk “Simpan tas di kamarmu di lantai atas, ganti  pakaian, cuci kaki dan tangan, lalu turun ke bawah lagi untuk makan  siang bersama ibu, tapi jangan lupa bawa serta buku PR Matematikanya,  ya”, maka kemungkinan besar anak disleksia tidak melakukan seluruh  instruksi tersebut dengan sempurna karena tidak mampu mengingat seluruh  perkataan ibunya.
  • Terdapat hambatan dalam masalah pemahaman sintaks: Anak  disleksia sering mengalami kebingungan dalam memahami tata bahasa,  terutama jika dalam waktu yang bersamaan mereka menggunakan dua atau  lebih bahasa yang mempunyai tata bahasa yang berbeda. Anak disleksia  mengalami masalah dengan bahasa keduanya apabila pengaturan tata  bahasanya berbeda daripada bahasa pertama. Misalnya dalam bahasa  Indonesia dikenal susunan diterangkan–menerangkan (contoh: tas merah).  Namun, dalam bahasa Inggris dikenal susunan menerangkan-diterangkan  (contoh: red bag).
  • Masalah yang juga bisa  mengikuti penyandang disleksia di antaranya  konsentrasi, daya ingat  jangka pendek (cepat lupa dengan instruksi).  “Penyandang disleksia juga  mengalami masalah dalam pengorganisasian.  Mereka cenderung tidak  teratur. Misalnya, memakai sepatu tetapi lupa  memakai kaus kaki. Masalah  lainnya, kesulitan dalam penyusunan atau  pengurutan, entah itu hari,  angka, atau huruf.
  • Biasanya disertai  attention-deficit hyperactivity disorder,  autisme, demam bengong (epilepsi tipe lena), keterbelakangan mental,  dan kecerdasan di atas rata-rata. “Jika ada kelainan lain, perlu diberi  terapi multidisiplin.
  • Penyandang disleksia juga  punya sisi positif. Biasanya mereka memiliki kemampuan di bidang lain  yang baik, bahkan melebihi rata-rata. “Otak pengidap disleksia membaca  dengan cara yang tak sama dengan mereka yang tak mengidap disleksia. Biasanya mereka memiliki keunggulan di bidang  visual-spasial, kesadaran sosial, penyelesaian masalah, geometri, atau  komputer

Tanda Disleksia Pra Sekolah

  • Suka mencampur adukkan kata-kata dan frasa
  • Kesulitan mempelajari rima (pengulangan bunyi) dan ritme (irama)
  • Sulit mengingat nama atau sebuah obyek
  • Perkembangan kemampuan berbahasa yang terlambat
  • Senang dibacakan buku, tapi tak tertarik pada huruf atau kata-kata
  • Sulit untuk berpakaian

Adapun tanda-tanda disleksia di usia sekolah dasar:

  • Sulit membaca dan mengeja
  • Sering tertukar huruf dan angka
  • Sulit mengingat alfabet atau mempelajari tabel
  • Sulit mengerti tulisan yang ia baca
  • Lambat dalam menulis
  • Sulit konsentrasi
  • Susah membedakan kanan dan kiri, atau urutan hari dalam sepekan
  • Percaya diri yang rendah
  • Masih tetap kesulitan dalam berpakaian

Penanganan

  • Usahakan agar benar-benar aktif dalam mendampinginya dari waktu ke waktu. Penderita disleksia setiap saat akan menemukan kesulitan-kesulitan. Dan  bila kita biarkan mereka mencari jawabannya sendiri,maka ketika  menemukan kegagalan demi kegagalan,si penderita justru akan menjadi  semakin bodoh. Keadaan tersebut akan memperburuk penyimpangannya.
  • Memberikan dorongan sedemikian rupa untuk mengembalikan kepercayaan dirinya. Penderita  disleksia akan cenderung  menghabiskan waktunya untuk mencari cara  dalam usahanya untuk menguasai sejumlah materi pelajaran  seperti,membaca,menulis dan hitungan-hitungan. Perjuangan ini hanya akan  tetap bertahan apabila kepercayaan dirinya terus terjaga
  • Buatlah semenarik mungkin ketika mengajarinya membaca. Hampir  semua anak penderita disleksia tidak suka pelajaran membaca,karena  membaca adalah pekerjaan yang paling berat bagi dirinya. Carilah isi  bacaan yang disukai oleh subjek,sehingga hal tersebut akan menjadi  menarik bagi subjek untuk terus mambacanya walaupun sulit.
  • Berikan model peran ,seperti orang-orang sukses yang disleksia. Model  peran  sangat penting mereka untuk meningkatkan semangatnya, dan tidak  selalu harus Albert Einstein, karena mungkin itu terlalu kuno. Ambilah  misalnya Orlando Bloom,Jackie Chan,Mc Dreamy,Patrick Dempsey (ini adalah  tokoh-tokoh pria sukses yang disleksia). Untuk wanita bisa diberikan  tokoh: Selma Hayek,Jewel,Whoopi Goldberg yang tentu akan membangkitkan  semangat dan harapan kesembuhan pada dirinya.
  • Bantu mereka dengan teknologi  yang membantu. Memberikan komputer saja untuk anak-anak disleksia  tidak akan sangat membantu. Berikan mereka software seperti Dragon Naturally Speaking atau Kurzweil 3000 . Biarkan mereka belajar sampai ia benar-benar menguasainya .
  • Gunakan Metode Pendekatan Multi-Sensori. Wilson  Reading System. Orton-Gillingham, dan Slingerland Approach merupakan  pendekatan pengajaran Multi-sensori. Mengajar mereka dengan pendekatan  multi-sensori akan sangat membantu proses recoverynya.Ke enam cara ini  bisa anda gunakan untuk bisa membantu mereka.

Bila si kecil mengalami kesulitan membaca secara teknis, seperti  sering terbolak-balik membaca kata atau bingung dengan huruf yang  bentuknya mirip, Anda bisa membantunya dengan cara :

  • Mulailah melatihnya dengan mengenalkan huruf, suku kata, lalu  berlanjut dengan kata yang terdiri dari dua suku kata, dan seterusnya.  Anda juga bisa membuatkan huruf dari lilin warna-warni agar ia lebih  bersemangat untuk belajar.
  • Lakukan metode dikte. Cobalah Anda mendiktekan suatu kata atau  kalimat kepadanya dan biarkan ia menuliskannya. Atau lakukan sebaliknya,  biarkan si kecil mendikte dan Anda yang menulis. Lalu minta ia  membacakannya kembali.
  • Ajak si kecil untuk membaca suatu wacana yang sumbernya bisa dari  buku bacaan atau buku cerita bergambar. Kemudian lakukan tanya-jawab  mengenai wacana tersebut.
  • Berikan tugas yang melatih rangsang visualnya.

Latihan Khusus Yang Bisa diberikan

Ajarkan Si Kecil Menulis

  • Sebagian anak yang menderita disleksia memiliki tulisan yang kurang  bagus. Ini disebabkan kontrol motoriknya yang tidak berfungsi dengan  baik. Langkah yang bisa dilakukan antara lain:
  • Berikan Ia sebuah buku bergambar dengan pola titik-titik. Ajarkan Ia  untuk menghubungkan titik-titik tersebut hingga menjadi sebuah gambar.  Ini berfungsi untuk melatih kemampuan motorik halusnya.
  • Latihlah terus si kecil untuk menulis halus, berupa pola ataupun  kalimat. Berikan pensil yang tebal (misalnya pensil 2B) bila tekanan  menulis si anak terlalu lemah dan pensil yang tipis (pensil H) pada anak  yang tekanan pada kertasnya terlalu kuat.

Ajak Si Kecil Bermain angka dan Melatih Ingatan Untuk  membantunya mengingat urutan hari dalam satu minggu, bulan dalam satu  tahun ataupun sejumlah deretan angka, Anda bisa membantunya dengan cara  berikut :

  • Jangan pernah lupa untuk mengingatkan ia setiap hari tentang tanggal ataupun hari saat ini.
  • Lakukan permainan yang melatih kemampuannya dalam mengurutkan, seperti permainan menyusun angka, kalimat dan sebagainya.
  • Di waktu luang, mintalah ia menceritakan kembali secara berurutan  suatu kejadian yang Ia alami dalam satu hari atau sebuah film pendek  yang baru saja ditontonnya.
  • Bila si kecil sulit memahami matematika, seperti salah menempatkan  angka dan sulit menghitung mundur atau memahami simbol. Gunakan kertas  berpetak untuk melakukan penjumlahan atau pengurangan. Ganti  lambang-lambang yang sulit dimengerti dengan istilah yang mudah  dipahami.

Ajak Si kecil Untuk Memahami orientasi

Kesulitan lain yang dialami anak disleksia adalah sering kali ragu  memahami orientasi ruang seperti kanan-kiri, depan-belakang, ataupun  atas-bawah. Tak jarang pula dari mereka yang tidak mengerti waktu dan  tempat di mana mereka berada. Untuk meningkatkan kemampuan orientasinya,  langkah berikut bisa Anda terapkan:

  • Ajak si kecil untuk mengikuti permainan baris-berbaris atau  permainan “Pegang telinga kiri dengan tangan kananmu!”. Ini berfungsi  untuk melatih kemampuan orientasinya
  • Jika si kecil benar-benar sulit membedakan mana tangan kanan dan kiri, berilah tanda seperti gelang pada salah satu tangannya.
  • Bacakan buku dan bantu mereka saat hendak membaca buku sendiri
  • Untuk usia pra sekolah, ajarkan rima, bermain game kata-kata dan puzzle juga akan membantu.
  • Ajarkan dan latih bersama bagaimana mengenakan pakaian
  • Jangan memfokuskan pada kelemahannya, dukung kegiatan yang disenangi
  • Bantu untuk mengerjakan PR
  • Tingkatkan kepercayaan diri mereka

Pelatihan Lainnya

  • Melatih  anak menulis sambung sambil      memperhatikan cara anak duduk  dan  memegang pensilnya. Tulisan sambung memudahkan      murid  membedakan  antara huruf yang hampir sama misalnya ’b’ dengan ’d’. Murid harus  diperlihatkan terlebih dahulu cara menulis huruf sambung       karena  kemahiran tersebut tidak dapat diperoleh begitu saja.  Pembentukan huruf yang betul sangatlah penting dan murid harus  dilatih menulis  huruf-huruf  yang hampir sama berulang kali.  Misalnya huruf-huruf  dengan bentuk bulat:  ”g, c, o, d, a, s, q”,  bentuk zig zag: ”k, v,  x, z”, bentuk linear: ”j, t,      l, u, y”,  bentuk hampir serupa: ”r, n,  m, h”.
  • Adanya komunikasi dan pemahaman yang sama mengenai anak disleksia antara orang tua dan guru
  • Anak duduk di barisan paling depan di kelas
  • Guru  senantiasa mengawasi / mendampingi saat anak diberikan tugas,  misalnya guru meminta dibuka halaman 15, pastikan anak tidak  tertukar dengan membuka halaman lain, misalnya halaman 50
  • Guru  dapat memberikan toleransi pada anak disleksia saat menyalin soal  di papan tulis sehingga mereka mempunyai waktu lebih banyak untuk  menyiapkan latihan (guru dapat memberikan soal dalam bentuk  tertulis di kertas)
  • Anak  disleksia yang sudah menunjukkkan usaha keras untuk berlatih dan  belajar harus diberikan penghargaan yang sesuai dan proses  belajarnya perlu diseling dengan waktu istirahat yang cukup.
  • Guru  dan orang tua perlu melakukan pendekatan yang berbeda ketika  belajar matematika dengan anak disleksia, kebanyakan mereka lebih  senang menggunakan sistem belajar yang praktikal. Selain itu kita  perlu menyadari bahwa anak disleksia mempunyai cara yang berbeda dalam menyelesaikan suatu soal matematika, oleh karena itu tidak  bijaksana untuk ”memaksakan” cara penyelesaian yang klasik jika  cara terebut sukar diterima oleh sang anak.
  • Aspek  emosi. Anak disleksia dapat menjadi sangat sensitif, terutama jika  mereka merasa bahwa mereka berbeda dibanding teman-temannya dan  mendapat perlakukan yang berbeda dari gurunya. Lebih buruk lagi  jika prestasi akademis mereka menjadi demikian buruk akibat  ”perbedaan” yang dimilikinya tersebut. Kondisi ini akan      membawa  anak menjadi individu dengan ”self-esteem” yang rendah dan tidak       percaya diri. Dan jika hal ini  tidak segera  diatasi akan terus bertambah parah dan menyulitkan proses terapi  selanjutnya. Orang tua dan guru seyogyanya adalah      orang-orang  terdekat yang dapat membangkitkan semangatnya, memberikan      motivasi  dan mendukung setiap langkah usaha yang diperlihatkan anak disleksia. Jangan sekali-sekali membandingkan anak disleksia dengan temannya, atau dengan saudaranya yang tidak disleksia.

 

 

Provided By:

MEDIA INDONESIA SEHAT Without health life is not life; it is only a state of langour and suffering – an image of death”. When wealth is lost, nothing is lost; when health is lost, something is lost; when character is lost, all is lost”. To keep the body in good health is a duty… otherwise we shall not be able to keep our mind strong and clear. Editor in Chief : Audi Yudhasmara, Associate Editors: Sandiaz Yudhasmara Senior Advisory Panel Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician, Dr Narulita Dewi SpKFR, email : audiyudhasmara@yahoo.com Mobile Phone 08992355752 PIN BBM 7413A117 Komunikasi dan Konsultasi online www.facebook.com/mediaindonesiasehat twitter: @audiyudhasmara facebook: www.facebook.com/Audi.Yudhasmara

Supported By GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 97730777 email : judarwanto@gmail.com www.growupclinic.com
“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2014, Media Indonesia Sehat Information Education Network. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s