Gangguan Bipolar, Gejala dan Penanganannya

Gangguan Bipolar, Gejala dan Penanganannya

Gangguan bipolar adalah salah satu masalah kejiwaan yang dialami oleh beberapa orang. Salah satu tandanya adanya perubahan mood dalam periode tertentu, baik manic atau gabungan manic dan depresi. Gangguan bipolar (bipolar disorder) adalah gangguan pada perasaan seseorang akibat masalah di otak, ditandai dengan perpindahan (swing) mood, pikiran, dan perubahan perilaku. Penderita mengalami perubahan mood yang dramatis, dari episode manic dan episode depresi selama periode waktu tertentu. Episode manic ditandai dengan kondisi mood yang sangat meningkat (hipertimik) atau irritable (mudah marah dan tersinggung), episode depresi ditandai dengan mood yang sangat menurun (hipotimik). Di antara kedua episode mood tersebut terdapat masa mood yang normal (eutimik). Istilah bipolar merujuk pada kondisi pasien yang mengalami perpindahan mood antara dua kutub atau spektrum emosi yang berlawanan tersebut.

Masyarakat sering menyebutnya ketidakstabilan mood, tetapi gejala ini baru dapat disebut gangguan bila telah memenuhi kriteria waktu tertentu, seperti untuk episode manic, dibutuhkan kondisi mood hipertimik dalam rentang waktu minimal seminggu atau bahkan kurang dari seminggu. Untuk episode depresi, dibutuhkan waktu minimal 2 minggu terus-menerus berada dalam kondisi mood hipotimik. Bisa dipastikan disebut gangguan, bila fungsi pekerjaan atau kehidupan sosialnya terganggu. Saat terjadi gangguan, terkadang pasien perlu dirawat di rumah sakit.

Bipolar disorder adalah jenis penyakit psikologi, ditandai dengan perubahan mood (alam perasaan) yang sangat ekstrim, yaitu berupa depresi dan mania. Pengambilan istilah bipolar disorder mengacu pada suasana hati penderitanya yang dapat berganti secara tiba-tiba antara dua kutub (bipolar) yang berlawanan yaitu kebahagiaan (mania) dan kesedihan (depresi) yang ekstrim.

Setiap orang pada umumnya pernah mengalami suasana hati yang baik (mood high) dan suasana hati yang buruk (mood low). Akan tetapi , seseorang yang menderita bipolar disorder memiliki mood swings yang ekstrim yaitu pola perasaan yang mudah berubah secara drastis. Suatu ketika, seorang pengidap bipolar disorder bisa merasa sangat antusias dan bersemangat (mania). Namun, ketika mood-nya berubah buruk, ia bisa sangat depresi, pesimis, putus asa, bahkan sampai mempunyai keinginan untuk bunuh diri (depresi). Dahulu, penyakit ini disebut dengan “manic-depressive”. Suasana hati meningkat secara klinis disebut sebagai mania atau, jika ringan, hypomania . Individu yang mengalami episode mania juga sering mengalami episode depresi, atau gejala, atau episode campuran dimana kedua fitur mania dan depresi hadir pada waktu yang sama. Episode ini biasanya dipisahkan oleh periode “normal” suasana hati (mood) , tetapi, dalam beberapa depresi, individu dan mania mungkin berganti dengan sangat cepat, yang dikenal sebagai “rapid-cycle”. Manic episode Ekstrim kadang-kadang dapat menyebabkan gejala psikotik seperti delusi dan halusinasi .Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara dua minggu sampai lima bulan. Sedangkan depresi cenderung berlangsung lebih lama. Episode hipomanik mempunyai derajat yang lebih ringan daripada manik. Gangguan tersebut telah dibagi menjadi bipolar I , bipolar II, cyclothymia , dan jenis lainnya, berdasarkan sifat dan pengalaman tingkat keparahan episode mood; kisaran sering digambarkan sebagai spektrum bipolar.

Bisa dikatakan bahwa insiden gangguan bipolar tidak tinggi antara 0,3-1,5 persen. Tapi angka tersebut belum termasuk yang misdiagnosis (biasa terdiagnosis sebagai skizofrenia). Gangguan jiwa bipolar saat ini sudah menjangkiti sekitar 10 hingga 12 persen remaja di luar negeri. Di beberapa kota di Indonesia juga mulai dilaporkan penderita berusia remaja. Resiko kematian terus membayangi penderita bipolar dan itu lebih karena mereka mengambil jalan pintas.

Episode pertama bisa timbul mulai dari masa kanak-kanak sampai tua. Kebanyakan kasus terjadi pada dewasa muda berusia 20-30 tahun. Semakin dini seseorang menderita bipolar, risiko penyakit akan lebih berat, berkepanjangan, bahkan sering kambuh. Sementara anak-anak berpotensi mengalami perkembangan gangguan ini ke dalam bentuk yang lebih parah dan sering bersamaan dengan gangguan hiperaktif defisit atensi. Orang yang berisiko mengalami gangguan bipolar adalah mereka yang mempunyai anggota keluarga mengidap penyakit bipolar.

Tanda dan gejala

Bipolar disorder dapat terlihat sangat berbeda pada orang yang berbeda. Gejala bervariasi dalam pola mereka, keparahan, dan frekuensi. Beberapa orang lebih rentan terhadap baik mania atau depresi, sementara yang lain bergantian sama antara dua jenis episode. Beberapa gangguan mood sering, sementara yang lain hanya mengalami sedikit selama seumur hidup.

Ada empat jenis mood episode dalam Bipolar Disorder: mania, hypomania, depresi, dan episode campuran. Setiap jenis mood episode bipolar disorder memiliki gejala yang unik.

Tanda dan Gejala Mania

Gejala-gejala dari tahap mania bipolar disorder adalah sebagai berikut:

  1. Gembira berlebihan
  2. Mudah tersinggung sehingga mudah marah
  3. Merasa dirinya sangat penting
  4. Merasa kaya atau memiliki kemampuan lebih dibanding orang lain
  5. Penuh ide dan semangat baru
  6. Cepat berpindah dari satu ide ke ide lainnya
  7. Seperti mendengar suara yang orang lain tak dapat mendengar
  8. Nafsu seksual meningkat
  9. Menyusun rencana yang tidak masuk akal
  10. Sangat aktif dan bergerak sangat cepat
  11. Berbicara sangat cepat sehingga sukar dimengerti apa yang dibicarakan
  12. Menghamburkan uang
  13. Membuat keputusan aneh dan tiba-tiba, namun cenderung membahayakan
  14. Merasa sangat mengenal orang lain
  15. Mudah melempar kritik terhadap orang lain
  16. Sukar menahan diri dalam perilaku sehari-hari
  17. Sulit tidur
  18. Merasa sangat bersemangat, seakan-akan 1 hari tidak cukup 24 jam

Tanda dan Gejala Hypomania

  • Hypomania adalah bentuk kurang parah mania. Orang-orang dalam keadaan hypomanic merasa gembira, energik, dan produktif, tetapi mereka mampu meneruskan kehidupan mereka sehari-hari dan mereka tidak pernah kehilangan kontak dengan realitas. Untuk yang lain, mungkin tampak seolah-olah orang dengan hypomania hanyalah dalam suasana hati yang luar biasa baik. Namun, hypomania dapat menghasilkan keputusan yang buruk yang membahayakan hubungan, karier, dan reputasi. Selain itu, hypomania sering kali dapat “naik kelas” untuk mania penuh dan terkadang dapat diikuti oleh episode depresi besar.
  • Tahap hipomania mirip dengan mania. Perbedaannya adalah penderita yang berada pada tahap ini merasa lebih tenang seakan-akan telah kembali normal serta tidak mengalami halusinasi dan delusi. Hipomania sulit untuk didiagnosis karena terlihat seperti kebahagiaan biasa, tapi membawa resiko yang sama dengan mania.Gejala-gejala dari tahap hipomania bipolar disorder adalah sebagai berikut: 1. Bersemangat dan penuh energi, muncul kreativitas. 2. Bersikap optimis, selalu tampak gembira, lebih aktif, dan cepat marah. 3. Penurunan kebutuhan untuk tidur.
  • Manik ditandai dengan semangat menggebu-gebu, berbicara cepat dan memiliki ide lebih banyak daripada biasanya. Penderita pun menjadi jauh lebih percaya diri, tidak kenal lelah, lebih boros, dan hasrat seksual tidak terbendung.
  • Suasana hati yang demikian akan berbalik 180 derajat ketika sedang pada episode depresi. Penderita akan merasa sedih luar biasa, murung, tidak punya tenaga, bahkan untuk sekedar mengangkat sendok makan. Kemampuan kognitif menurun, merasa bersalah, dan tak punya semangat hidup. Pada episode yang berbahaya ini banyak orang dengan gangguan dipolar yang mencoba bunuh diri.
  • Satu episode umumnya bertahan minimal satu minggu. Bila episode berakhir, orang dengan gangguan bipolar belum tentu langsung mengalami episode selanjutnya. Artinya, saat tidak mengalami episode, orang dengan gangguan dipolar tidak menunjukkan gejala apapun, normal seperti halnya orang yang bermental sehat.
  • Jika tidak mendapat penanganan, setiap episode akan berlangsung dengan cepat. Sehingga dalam satu tahun, akan terjadi hingga empat siklus. Semakin dini gangguan bipolar terdeteksi, maka akan semakin besar keberhasilan terapinya.

Tanda dan Gejala Depresi Bipolar

Gejala-gejala dari tahap depresi bipolar disorder adalah sebagai berikut:

  1. Suasana hati yang murung dan perasaan sedih yang berkepanjangan
  2. Sering menangis atau ingin menangis tanpa alasan yang jelas
  3. Kehilangan minat untuk melakukan sesuatu
  4. Tidak mampu merasakan kegembiraan
  5. Mudah letih, tak bergairah, tak bertenaga
  6. Sulit konsentrasi
  7. Merasa tak berguna dan putus asa
  8. Merasa bersalah dan berdosa
  9. Rendah diri dan kurang percaya diri
  10. Beranggapan masa depan suram dan pesimistis
  11. Berpikir untuk bunuh diri
  12. Hilang nafsu makan atau makan berlebihan
  13. Penurunan berat badan atau penambahan berat badan
  14. Sulit tidur, bangun tidur lebih awal, atau tidur berlebihan
  15. Mual sehingga berbicara pun susah karena menahan rasa mual, mulut kering, Susah BAB, dan terkadang diare
  16. Kehilangan gairah seksual
  17. Menghindari komunikasi dengan orang lain

Hampir semua penderita bipolar disorder mempunyai pikiran tentang bunuh diri dan 30% diantaranya berusaha untuk merealisasikan niat tersebut dengan berbagai cara.

Tanda dan Gejala Episode Campuran

  • Sebuah episode bipolar disorder campuran dari kedua fitur gejala mania atau hypomania dan depresi. Tanda-tanda umum episode campuran termasuk depresi dikombinasikan dengan agitasi, iritabilitas, kegelisahan, insomnia, distractibility, dan pikiran berlomba (Flight of idea). Kombinasi energi tinggi dan rendah membuat suasana hati (mood) penderita beresiko yang sangat tinggi untuk bunuh diri.
  • Dalam konteks bipolar disorder, episode campuran (mixed state) adalah suatu kondisi dimana tahap mania dan depresi terjadi bersamaan. Pada saat tertentu, penderita mungkin bisa merasakan energi yang berlebihan, tidak bisa tidur, muncul ide-ide yang berlal-lalang di kepala, agresif, dan panik (mania). Akan tetapi, beberapa jam kemudian, keadaan itu berubah menjadi sebaliknya. Penderita merasa kelelahan, putus asa, dan berpikiran negatif terhadap lingkungan sekitarnya. Hal itu terjadi bergantian dan berulang-ulang dalam waktu yang relatif cepat. Alkohol, narkoba, dan obat-obat antipedresan sering dikonsumsi oleh penderita saat berada pada epiode ini. Mixed state bisa menjadi episode yang paling membahayakan penderita bipolar disorder. Pada episode ini, penderita paling banyak memiliki keinginan untuk bunuh diri karena kelelahan, putus asa, delusion, dan hallucination. Gejala-gejala yang diperlihatkan jika penderita akan melakukan bunuh diri antara lain sebagai berikut. 1. Selalu berbicara tentang kematian dan keinginan untuk mati kepada orang-orang di sekitarnya. 2. Memiliki pandangan pribadi tentang kematian. 3. Mengkonsumsi obat-obatan secara berlebihan dan alkohol. 4. Terkadang lupa akan hutang atau tagihan seperti; tagihan listrik, telepon. Penderita yang mengalami gejala-gejala tersebut atau siapa saja yang mengetahuinya sebaiknya segera menelepon dokter atau ahli jiwa, jangan meninggalkan penderita sendirian, dan jauhkan benda-benda atau peralatan yang beresiko dapat membahayakan penderita atau orang-orang disekelilingnya.

Faktor Penyebab

  • Genetik Gen bawaan adalah faktor umum penyebab bipolar disorder. Seseorang yang lahir dari orang tua yang salah satunya merupakan pengidap bipolar disorder memiliki resiko mengidap penyakit yang sama sebesar 15%-30% dan bila kedua orang tuanya mengidap bipolar disorder, maka 50%-75%. anak-anaknya beresiko mengidap bipolar disorder. Kembar identik dari seorang pengidap bipolar disorder memiliki resiko tertinggi kemungkinan berkembangnya penyakit ini daripada yang bukan kembar identik. Penelitian mengenai pengaruh faktor genetis pada bipolar disorder pernah dilakukan dengan melibatkan keluarga dan anak kembar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 10-15% keluarga dari pasien yang mengalami gangguan bipolar disorder pernah mengalami satu episode gangguan mood.

Fisiologis

  • Sistem Neurochemistry dan Mood Disorders Salah satu faktor utama penyebab seseorang mengidap bipolar disorder adalah terganggunya keseimbangan cairan kimia utama di dalam otak. Sebagai organ yang berfungsi menghantarkan rangsang, otak membutuhkan neurotransmitter (saraf pembawa pesan atau isyarat dari otak ke bagian tubuh lainnya) dalam menjalankan tugasnya. Norepinephrin, dopamine, dan serotonin adalah beberapa jenis neurotransmitter yang penting dalam penghantaran impuls syaraf. Pada penderita bipolar disorder, cairan-cairan kimia tersebut berada dalam keadaan yang tidak seimbang. Sebagai contoh, suatu ketika seorang pengidap bipolar disorder dengan kadar dopamine yang tinggi dalam otaknya akan merasa sangat bersemangat, agresif, dan percaya diri. Keadaan inilah yang disebut fase mania. Sebaliknya dengan fase depresi. Fase ini terjadi ketika kadar cairan kimia utama otak itu menurun di bawah normal, sehingga penderita merasa tidak bersemangat, pesimis, dan bahkan keinginan untuk bunuh diri yang besar. Seseorang yang menderita bipolar disorder menandakan adanya gangguan pada sistem motivasional yang disebut dengan behavioral activation system (BAS). BAS memfasilitasi kemampuan manusia untuk memperoleh reward (pencapaian tujuan) dari lingkungannya. Hal ini dikaitkan dengan positive emotional states, karakteristik kepribadian seperti ekstrovert(bersifat terbuka), peningkatan energi, dan berkurangnya kebutuhan untuk tidur. Secara biologis, BAS diyakini terkait dengan jalur saraf dalam otak yang melibatkan dopamine dan perilaku untuk memperoleh reward. Peristiwa kehidupan yang melibatkan reward atau keinginan untuk mencapai tujuan diprediksi meningkatkan episode mania tetapi tidak ada kaitannya dengan episode depresi. Sedangkan peristiwa positif lainnya tidak terkait dengan perubahan pada episode mania.
  • Sistem Neuroendokrin Area limbik di otak berhubungan dengan emosi dan mempengaruhi hipotalamus.Hipotalamus berfungsi mengontrol kelenjar endokrin dan tingkat hormon yang dihasilkan. Hormon yang dihasilkan hipotalamus juga mempengaruhi kelenjar pituarity. Kelenjar ini terkait dengan gangguan depresi seperti gangguan tidur dan rangsangan selera. Berbagai temuan mendukung hal tersebut, bahwa orang yang depresi memiliki tingkat dari cortisol (hormon adrenocortical) yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh produksi yang berlebih dari pelepasan hormon rotropin oleh hipotalamus. Produksi yang berlebih dari cortisol pada orang yang depresi juga menyebabkan semakin banyaknya kelenjar adrenal. Banyaknya cortisol tersebut juga berhubungan dengan kerusakan pada hipoccampus dan penelitian juga telah membuktikan bahwa pada orang depresi menunjukkan hipoccampal yang tidak normal. Penelitian mengenai Cushing’s Syndrome juga dikaitkan dengan tingginya tingkat cortisol pada gangguan depresi

Lingkungan

  • Bipolar Disorder tidak memiliki penyebab tunggal. Tampaknya orang-orang tertentu secara genetik cenderung untuk bipolar disorder. Namun tidak semua orang dengan kerentanan mewarisi penyakit berkembang, menunjukkan bahwa gen bukanlah satu-satunya penyebab. Beberapa studi pencitraan otak menunjukkan perubahan fisik pada otak orang dengan bipolar disorder. Dalam penelitian lain disebutkan, poin ketidakseimbangan neurotransmitter, fungsi tiroid yang abnormal, gangguan ritme sirkadian, dan tingkat tinggi hormon stres kortisol. Faktor eksternal lingkungan dan psikologis juga diyakini terlibat dalam pengembangan bipolar disorder. Faktor-faktor eksternal yang disebut pemicu. Pemicu dapat memulai episode baru mania atau depresi atau membuat gejala yang ada buruk. Namun, banyak episode gangguan bipolar terjadi tanpa pemicu yang jelas.
  • Penderita penyakit ini cenderung mengalami faktor pemicu munculnya penyakit yang melibatkan hubungan antar perseorangan atau peristiwa-peristiwa pencapaian tujuan (reward) dalam hidup. Contoh dari hubungan perseorangan antara lain jatuh cinta, putus cinta, dan kematian sahabat. Sedangkan peristiwa pencapaian tujuan antara lain kegagalan untuk lulus sekolah dan dipecat dari pekerjaan. Selain itu, seorang penderita bipolar disorder yang gejalanya mulai muncul saat masa ramaja kemungkinan besar mempunyai riwayat masa kecil yang kurang menyenangkan seperti mengalami banyak kegelisahan atau depresi. Selain penyebab diatas, alkohol, obat-obatan, dan penyakit lain yang diderita juga dapat memicu munculnya bipolar disorder.
  • Di sisi lain, keadaan lingkungan di sekitarnya yang baik dapat mendukung penderita gangguan ini sehingga bisa menjalani kehidupan dengan normal. Berikut ini adalah faktor lingkungan yang dapat memicu terjadinya BD, antara lain:
  1. Stress – peristiwa kehidupan Stres dapat memicu gangguan bipolar pada seseorang dengan kerentanan genetik. Peristiwa ini cenderung melibatkan perubahan drastis atau tiba-tiba-baik atau buruk-seperti akan menikah, akan pergi ke perguruan tinggi, kehilangan orang yang dicintai, dipecat.
  2. Penyalahgunaan Zat – Meskipun penyalahgunaan zat tidak menyebabkan gangguan bipolar, itu dapat membawa pada sebuah episode dan memperburuk perjalanan penyakit. Obat-obatan seperti kokain, ekstasi, dan amphetamine dapat memicu mania, sedangkan alkohol dan obat penenang dapat memicu depresi.
  3. Obat – obat tertentu, terutama obat-obatan antidepresan, bisa memicu mania. Obat lain yang dapat menyebabkan mania termasuk obat flu over-the-counter, penekan nafsu makan, kafein, kortikosteroid, dan obat tiroid.
  4. Perubahan Musiman – Episode mania dan depresi sering mengikuti pola musiman. Manic episode lebih sering terjadi selama musim panas, dan episode depresif lebih sering terjadi selama musim dingin, musim gugur, dan musim semi (untuk negara dengan 4 musim).
  5. Kurang Tidur – Rugi tidur-bahkan sesedikit melewatkan beberapa jam istirahat-bisa memicu episode mania

Penanganan

  • Pengobatan gangguan bipolar secara langsung berkaitan dengan fase episode (yaitu, depresi atau mania) dan tingkat keparahan fase itu. Sebagai contoh, seseorang yang sangat tertekan dan menunjukkan perilaku bunuh diri memerlukan rawat inap. Sebaliknya, individu dengan depresi moderat yang masih dapat bekerja akan diperlakukan sebagai pasien rawat jalan. Untungnya, sebagian besar pasien sembuh dari episode manik pertama, tapi tentu saja mereka di luar itu adalah variabel. 
  • Jika pasien di unit rawat inap jangka pendek dan belum membuat kemajuan yang signifikan, transfer ke unit rawat inap jangka panjang mungkin agar. Jika pasien berada dalam fase depresi atau manik dan tidak menanggapi obat-obatan, mentransfer pasien ke fasilitas mana terapi electroconvulsive (ECT) dapat diberikan
  • Konsultasi dengan seorang rekan jiwa atau psychopharmacologist yang selalu tepat jika pasien tidak merespon pengobatan konvensional dan pengobatan
  • Semua pasien dengan gangguan bipolar membutuhkan pemantauan rawat jalan untuk kedua obat dan psikoterapi. Selain itu, mereka membutuhkan pendidikan. Jadwal harus teratur, dengan fleksibilitas yang besar jika mereka membutuhkan sesi tambahan
  • Tidak ada perawatan bedah diindikasikan untuk gangguan bipolar. Secara historis, pengobatan berusaha dengan prosedur psychosurgical, seperti prefrontal lobotomy. Lobotomi tidak lagi digunakan dalam perawatan klinis pasien dengan gangguan bipolar

Indikasi rawat inap pada orang dengan gangguan bipolar meliputi:

  • Bahaya diri
  • Bahaya bagi orang lain
  • Jumlah ketidakmampuan untuk fungsi
  • Kehilangan kendali total
  • Kondisi medis yang menjamin pemantauan obat

Seorang pasien dengan gangguan bipolar, terutama yang di episode depresi, dapat hadir dengan risiko yang signifikan untuk bunuh diri. Percobaan bunuh diri yang serius dan ideation spesifik dengan rencana merupakan bukti yang jelas tentang perlunya observasi konstan dan perlindungan pencegahan; Namun, dalam situasi lain, bahaya bagi orang tersebut bisa berasal dari aspek-aspek lain dari penyakit ini. Sebagai contoh, seseorang yang cukup tertekan untuk tidak makan mungkin berada pada risiko kematian. Bergantian, seseorang dalam ekstrim mania yang foregoes tidur atau makanan mungkin dalam keadaan kelelahan yang serius

  • Pasien dengan gangguan bipolar juga bisa menjadi ancaman bagi orang lain. Sebagai contoh, seorang pasien mengalami depresi berat percaya dunia itu begitu suram bahwa ia berencana untuk membunuh anak-anaknya untuk menyelamatkan mereka dari penderitaan dunia. Di ekstrim lain, pasien delusi memiliki episode manic percaya semua orang terhadap dia; ia mencari senapan untuk membela diri dan untuk mendapatkan mereka sebelum mereka mendapatkannya.
  • Pasien dengan gangguan bipolar berisiko untuk perilaku bunuh diri, terutama mereka dengan onset awal gejala. Goldstein dan rekan mengikuti kesehatan mental dari 413 pemuda didiagnosis dengan gangguan bipolar dan menemukan bahwa 76 (18%) mencoba bunuh diri setidaknya sekali dalam 5 tahun studi, ini, 31 (8% dari keseluruhan kelompok dan 41% dari mereka yang mencoba bunuh diri) membuat banyak usaha. [60] Mereka menyimpulkan bahwa gangguan bipolar dengan onset dini dikaitkan dengan tingkat bunuh diri yang tinggi. Tingkat keparahan depresi dan sejarah keluarga harus dipertimbangkan dalam penilaian individu dengan gangguan bipolar. Faktor-faktor ini tetap reasions untuk rawat inap.
  • Kadang-kadang, depresi begitu mendalam bahwa orang tersebut tidak bisa berfungsi sama sekali. Meninggalkan orang tersebut sendiri akan berbahaya dan tidak terapeutik.
  • Kadang-kadang, perilaku pasien benar-benar di luar kendali; ini adalah perhatian khusus selama episode manic. Dalam situasi ini, perilaku pasien sangat melampaui batas yang mereka menghancurkan karir mereka dan bisa berbahaya bagi orang di sekitar mereka.
  • Beberapa pasien dengan gangguan bipolar memiliki kondisi medis lainnya yang pemantauan obat dijamin. Sebagai contoh, pasien dengan kondisi jantung tertentu harus berada dalam lingkungan medis di mana efek dari obat psikotropika dapat dipantau dan diperhatikan dengan seksama.
  • Dalam kasus yang paling jelas dari bipolar / fase depresi, pasien bunuh diri dan pembunuh dalam beberapa situasi (hal ini dapat mengakibatkan pembunuhan diikuti oleh bunuh diri). Dalam skenario ini, komitmen adalah dalam rangka dan ditunjukkan. Dalam situasi lain, depresi telah menyebabkan ketidakmampuan untuk bekerja, makan, dan fungsi; rawat inap juga ditunjukkan dalam kasus ini.
  • Dalam situasi pasien bipolar di fase manik /, sering ada bukti kurang jelas dan dramatis pembunuhan atau bunuh diri, tetapi pola penghakiman sangat miskin dan penurunan muncul. Karena perilaku selama fase manik, orang sering melakukan kerusakan besar pada keuangan, karir, dan posisi dalam masyarakat. Jenis merusak diri sendiri mania panggilan untuk penyimpanan dengan dokumentasi yang baik dan dukungan keluarga.
    Rawat inap parsial atau Hari Perawatan
  • Secara umum, pasien yang adalah kandidat untuk sebagian rawat inap atau pengobatan hari mengalami gejala yang parah, tetapi memiliki beberapa tingkat kontrol dan lingkungan hidup yang stabil.
  • Sebagai contoh, pasien dengan depresi berat yang memiliki pikiran bunuh diri tapi tidak ada rencana untuk bertindak atas mereka dan yang memiliki tingkat tinggi motivasi bisa sembuh ketika diberi banyak dukungan interpersonal, terutama pada siang hari, dan dengan bantuan keluarga sangat terlibat dan mendukung. Keluarga harus pulang setiap malam dan harus sangat peduli dengan perawatan pasien.
  • Rawat inap parsial juga menawarkan jembatan untuk kembali bekerja. Kembali langsung bekerja sering sulit bagi pasien dengan gejala yang parah, dan rawat inap parsial memberikan dukungan dan hubungan interpersonal.

Rawat Jalan 

Rawat jalan memiliki 4 tujuan utama:

  • Melihat daerah-daerah tekanan dan menemukan cara untuk menangani mereka. Tegangan dapat berasal dari keluarga atau pekerjaan, tetapi jika mereka menumpuk, mereka mendorong orang ke mania atau depresi. Ini adalah bentuk psikoterapi.
  • Memantau dan mendukung obat. Obat membuat perbedaan yang luar biasa. Kuncinya adalah untuk mendapatkan manfaat sambil menghindari efek samping. Pasien ambivalen tentang obat mereka. Mereka mengakui bahwa obat membantu dan mencegah rawat inap, namun mereka juga marah karena mereka membutuhkannya. Pekerjaan ini untuk mengatasi perasaan mereka dan memungkinkan mereka terus dengan obat-obatan.
  • Mengembangkan dan memelihara aliansi terapeutik. Ini adalah salah satu dari banyak alasan bagi para praktisi untuk menangani ambivalensi pasien tentang obat-obatan. Seiring waktu, kekuatan aliansi membantu menjaga gejala-gejala pasien minimal dan membantu pasien tetap di masyarakat.
  • Memberikan pendidikan (lihat Pasien Pendidikan). Klinisi harus membantu mendidik pasien dan keluarga tentang penyakit bipolar. Pasien dan keluarganya perlu menyadari akan bahaya penyalahgunaan zat, situasi yang akan menyebabkan kekambuhan, dan peran penting dari obat-obatan. Kelompok dukungan untuk pasien dan keluarga sangat penting yang luar biasa.

Psikoterapi membantu pasien dengan gangguan bipolar. Schöttle dan rekan melihat psikoterapi untuk pasien, keluarga, dan pengasuh. Mereka menemukan bahwa meskipun hasil yang heterogen, sebagian besar studi menemukan hasil positif yang relevan dalam hal penurunan tingkat kambuhan, meningkatkan kualitas hidup, peningkatan berfungsi, atau perbaikan gejala yang lebih menguntungkan

  • Masalah kesehatan somatik pada individu dengan gangguan bipolar di mana-mana, underrecognized, dan suboptimally diobati. Oleh karena itu, praktisi harus memperhatikan kondisi medis pasien, termasuk kekhawatiran kardiovaskular, diabetes, masalah endokrin, infeksi, komplikasi kencing, dan ketidakseimbangan elektrolit. Mengingat komplikasi medis mungkin, medis tindak lanjut adalah penting. Orang dengan gangguan bipolar sering mengalami kesulitan mendapatkan perawatan dokter utama
  • Selain memperhatikan penyakit fisik yang mungkin terkait dengan gangguan afektif bipolar, dokter harus menekankan pendekatan kesehatan yang positif. Bartels dan rekan mengembangkan program kebugaran yang disebut SHAPE. Ini terdiri dari satu tahun sesi mingguan dengan pelatih kebugaran ditambah keanggotaan klub kebugaran. Mereka menyimpulkan program mereka menghasilkan pengurangan risiko kardiovaskular hampir setengah dari peserta pada 12 bulan. Meskipun kebugaran ditingkatkan, peningkatan berat badan mungkin memerlukan intervensi lebih lanjut
  • Pasien dengan penyakit medis yang kronis dan depresi harus ditangani dengan pendekatan komprehensif yang melibatkan pasien, keluarga, tim dukungan, dokter, profesional lainnya, dan sumber daya masyarakat. Model seperti, yang disebut Collaborative Model Perawatan kronis (CCMS), telah dikembangkan untuk meningkatkan hasil pada pasien sakit kronis dirawat di pengaturan perawatan primer yang juga menderita depresi. CCMS didefinisikan a priori sebagai intervensi dengan setidaknya 3 dari 6 komponen Meningkatkan inisiatif kronis Perawatan Penyakit (dukungan manajemen diri pasien, sistem informasi klinis, sistem pengiriman ulang, pendukung keputusan, dukungan organisasi, dan hubungan sumber daya masyarakat). Woltmann et al meneliti pendekatan ini pada pasien dengan gangguan bipolar. Mereka terakhir 78 artikel, menghasilkan 161 analisis dari 57 percobaan (depresi, N = 40; gangguan bipolar, N = 4; gangguan kecemasan, N = 3; beberapa / gangguan lain, N = 10). Mereka menyimpulkan bahwa CCMS canimprove baik hasil mental dan fisik forpatients dengan gangguan mental di berbagai pengaturan perawatan. CCMS juga menyediakan kerangka klinis dan kebijakan yang kuat untuk integrasi perawatan.

Terapi Farmakologis 

  • Pengobatan yang tepat tergantung pada tahap gangguan bipolar pasien mengalami. Dengan demikian, sejumlah obat yang diindikasikan untuk episode manic akut, terutama antipsikotik, valproate, dan benzodiazepin (misalnya lorazepam, clonazepam). Pilihan agen tergantung pada adanya gejala seperti gejala psikotik, agitasi, agresi, dan gangguan tidur
  • Bauer dan rekan menyarankan 2 pendekatan. Pertama, pada pasien dengan depresi bipolar yang saat ini tidak dirawat dengan agen menstabilkan suasana hati (de novo depresi, pertama atau berikutnya episode), pilihan termasuk quetiapine atau olanzapine, dengan carbamazepine dan lamotrigin sebagai alternatif. Antidepresan adalah pilihan untuk penggunaan jangka pendek, tetapi masih kontroversial apakah lebih baik untuk mengelola dalam kombinasi dengan agen menstabilkan suasana hati atau sebagai monoterapi. Kebanyakan dokter menggunakan antidepresan dan agen antimanik dalam kombinasi. Kedua, jika pasien sudah optimal diobati dengan suasana hati menstabilkan agen (dosis yang tepat, kepatuhan yang baik) seperti lithium, pilihan akan lamotrigin. Tidak ada bukti menunjukkan manfaat tambahan dari antidepresan jika pasien sudah dirawat dengan stabilizer mood, tapi ini sering mencoba dalam praktek.

Pada bulan Juni 2013, the International Society for Bipolar Disorders (ISBD) merilis rekomendasi baru untuk penggunaan antidepresan pada gangguan bipolar. Rekomendasi tersebut meliputi:

  • Antidepresan ajuvan dapat digunakan untuk bipolar I atau II akut episode depresi ketika ada riwayat respon positif sebelumnya untuk antidepresan.
  • Antidepresan ajuvan harus dihindari untuk bipolar I atau II akut episode depresi dengan 2 atau lebih gejala manic inti secara bersamaan, dengan adanya agitasi psikomotor atau bersepeda cepat.
  • Pengobatan pemeliharaan dengan antidepresan ajuvan dapat dipertimbangkan jika pasien kambuh menjadi episode depresi setelah menghentikan terapi antidepresan.
  • Monoterapi antidepresan harus dihindari pada gangguan bipolar.
  • Monoterapi antidepresan harus dihindari pada bipolar I dan II depresi dengan 2 atau lebih gejala inti bersamaan manik.
  • Antidepresan harus dihindari selama episode manik dan depresi dengan fitur campuran.
  • Antidepresan harus dihindari pada pasien bipolar dengan negara-negara dominan campuran.
  • Sebelumnya antidepresan diresepkan harus dihentikan pada pasien yang mengalami keadaan campuran saat ini.
  • Pengobatan ajuvan dengan serotonin reuptake inhibitornorepinefrin dan antidepresan trisiklik harus dipertimbangkan hanya setelah antidepresan lain telah dicoba. Jika mereka digunakan, mereka harus diamati secara teliti, karena peningkatan risiko untuk switch atau suasana hati destabilisasi.
  • Mengobati episode depresi dalam konteks gangguan bipolar adalah sebuah tantangan. Satu studi menyarankan 9 alternatif penggunaan antidepresan, termasuk olahraga, terapi perilaku kognitif, dan manipulasi cahaya. Saran mediasi naturalis termasuk omega3 asam lemak, Nacetylcysteine​​, dan obat tiroid. Pendekatan farmasi termasuk lithium, lamotrigin dan quetiapine
  • Satu catatan penting yang menarik, para peneliti telah menemukan bahwa uji coba antidepresan lebih berbeda pasien dengan gangguan bipolar telah diterima, kurang responsif terhadap pengobatan mereka menjadi. [69]
  • Loxapine dihirup (Adasuve) adalah terapi noninjectable pertama untuk mengobati agitasi akut berhubungan dengan skizofrenia dan gangguan bipolar. Persetujuan FDA didasarkan atas 2 tahap III studi dari 658 orang. Pengurangan yang signifikan secara statistik dalam agitasi yang jelas mulai 10 menit setelah pemberian dibandingkan dengan plasebo dan dipertahankan pada 2 jam (P <0,0001).
  • Lithium adalah obat yang biasa digunakan untuk profilaksis dan pengobatan episode manik. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa lithium juga mungkin memiliki peran saraf.
  • Juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penurunan kemampuan kemih, hipotiroidisme, hiperparatiroidisme, dan berat badan berkonsentrasi. Temuan konsisten prevalensi tinggi hiperparatiroidisme harus meminta dokter untuk memeriksa konsentrasi kalsium pasien sebelum dan selama pengobatan. Lithium tidak terkait dengan penurunan yang signifikan dalam fungsi ginjal pada sebagian besar pasien, dan risiko stadium akhir gagal ginjal rendah. Terapi Lithium dapat berfungsi untuk melindungi dan melestarikan volume hipokampus, berbeda dengan pasien dengan depresi berat (yaitu, unipolar), yang menunjukkan volume hipokampus berkurang
  • Cipriani dkk menunjukkan kegunaan lithium dan menemukan dukungan untuk tindakan antisuicidal nya. Mereka menemukan bahwa lithium umumnya lebih baik daripada pembanding aktif lainnya dalam mencegah tindakan bunuh diri. Mereka menyarankan bahwa efek antisuicidal lithium mungkin karena kemampuannya untuk mengurangi kekambuhan gangguan mood; Namun, penulis menyarankan mekanisme tambahan juga harus dipertimbangkan karena beberapa bukti menunjukkan lithium menurunkan agresi dan mungkin impulsif, yang mungkin juga bertanggung jawab untuk mencegah perilaku bunuh diri
  • Antipsikotik atipikal yang digunakan semakin untuk pengobatan kedua mania dan suasana hati stabilisasi akut. The berbagai antidepresan dan ECT digunakan untuk episode depresi akut (yaitu, depresi besar). Ansari dan Osser telah mengembangkan algoritma yang sangat berguna untuk mengobati pasien bipolar dalam fase depresiAkhirnya, obat tersebut merupapakan satu set obat yang dipilih untuk pemeliharaan dan fase pencegahan pengobatan.
  • Diazgranados dkk telah melaporkan bahwa pasien dengan efek antidepresan pengobatan tahan depresi bipolar, mengesankan dan cepat terjadi ketika intravena (IV) dosis tunggal N metilD -aspartate (NMDA) antagonis diberikanSemakin, peran glutamat dalam gangguan mood sedang diteliti, dan bukti eksperimental menunjukkan bahwa NMDA antagonis reseptor ketamin dapat membantu dalam pengobatan jangka pendek dari depresi, bahkan dalam konteks gangguan bipolar
  • Meskipun obat antidepresan yang paling sering diresepkan untuk pasien dengan gangguan bipolar yang mengalami depresi akut, sebuah studi menemukan bahwa antidepresan secara statistik tidak lebih unggul dengan plasebo atau pengobatan standar saat lain untuk depresi bipolar.
  • Pengalaman klinis telah menunjukkan bahwa pasien dengan gangguan bipolar memiliki episode yang lebih sedikit dari mania dan depresi ketika diobati dengan obat menstabilkan suasana hati. Obat-obat ini berfungsi untuk menstabilkan suasana hati pasien, seperti namanya. Mereka juga dapat meredam ekstrem mania atau depresi. Kessing dkk menemukan bahwa, secara umum, lithium lebih unggul valproate.
  • Pengalaman klinis telah menunjukkan bahwa pasien dengan gangguan bipolar memiliki episode yang lebih sedikit dari mania dan depresi ketika diobati dengan obat menstabilkan suasana hati. Obat-obat ini berfungsi untuk menstabilkan suasana hati pasien, seperti namanya. Mereka juga dapat meredam ekstrem mania atau depresi.
  • Antipsikotik atipikal (termasuk ziprasidone, quetiapine, risperidone, aripiprazole, olanzapine, dan asenapine) juga sekarang sering digunakan untuk menstabilkan mania akut, atau bahkan untuk mengobati depresi bipolar dalam beberapa kasus.
  • Ada kekhawatiran bahwa ziprasidone mungkin memiliki efek buruk pada berat badan, lipid puasa, dan glukosa puasa. Pappadopulos et al melihat seperangkat analisis pergantian metabolik pada pasien obat ini dan tidak menemukan perbedaan yang signifikan antara ziprasidone dan kelompok plasebo dalam trigliserida puasa, kolesterol total, low-density lipoprotein kolesterol, high-density lipoprotein kolesterol, atau glukosa dalam studi terkontrol.
  • Dalam sebuah studi dari aripiprazole untuk gangguan bipolar (manik atau campuran) pada pasien muda (10-17 tahun), aripiprazole menunjukkan peningkatan yang signifikan di Young Mania Rating Scale (YMRS) skor. Dalam studi terkontrol plasebo ini, pasien diberi baik 10 mg atau 30 mg per hari. Kedua dosis ditoleransi dengan baik selama 30 minggu. Secara keseluruhan waktu untuk semua penyebab penghentian ditemukan lagi pada kelompok 10mg (15,6 minggu) dibandingkan dengan kelompok 30mg (9,5 minggu), dibandingkan dengan plasebo (5,3 minggu). Sering dilaporkan efek samping termasuk sakit kepala, mengantuk, dan gangguan ekstrapiramidal.
  • Pada bulan Juni 2013, FDA menyetujui atipikal antipsikotik agen lurasidone, yang sudah diindikasikan untuk skizofrenia, untuk mengobati episode depresi mayor pada orang dewasa dengan gangguan bipolar. Lurasidone dapat diresepkan sebagai monoterapi atau dengan baik lithium atau valproate untuk indikasi baru ini.
  • Persetujuan lurasidone didasarkan atas 2 uji klinis, satu untuk lurasidone sebagai terapi tambahan (PREVAIL1) dan yang lainnya untuk obat sebagai monoterapi (PREVAIL2). Dalam kedua studi, pasien yang memakai lurasidone mengalami penurunan gejala depresi yang diukur dengan MontgomeryÅsberg Depresi Rating Scale setelah 6 minggu dibandingkan dengan kelompok yang memakai plasebo. Pasien yang diobati dengan lurasidone juga menunjukkan perbaikan yang signifikan dalam tingkat remisi, gejala kecemasan, dan kenikmatan dan kualitas hidup. Efek samping yang paling umum yang terkait dengan lurasidone monoterapi adalah akatisia, gejala ekstrapiramidal, mengantuk, mual, muntah, diare, dan kecemasan.
  • Peran stabilisator suasana hati dan obat antipsikotik dalam menjaga pasien dengan gangguan bipolar didokumentasikan dengan baik, seperti penggunaan antipsikotik long-acting untuk membantu dengan fase pemeliharaan.
  • Menurut beberapa penelitian metaanalisis pengobatan untuk mania akut, haloperidol, risperidone, olanzapine dan perawatan yang paling manjur, secara signifikan melebihi penstabil mood primer dan obat antipsikotik lainnya.
  • Dalam pengobatan depresi terkait dengan gangguan bipolar II, Swartz dkk melaporkan bahwa 95% dari uji coba yang relevan diterbitkan paling lambat 2005 tercatat bukti kuat untuk efektivitas quetiapine dan dukungan awal untuk keberhasilan lithium, antidepresan, dan pramipexole. Gangguan Campuran berespon baik terhadap lamotrigin.
  • Sebagaimana diuraikan dalam pedoman praktek klinis dari American Psychiatric Associationbenzodiazepin memiliki efek sedatif, yang mungkin membuat obat tambahan yang berguna sampai obat antimanik berlaku. Selain itu, pedoman menyatakan bahwa gejala manik dapat diobati dengan klorpromazin, yang dianggap unggul dengan plasebo dalam uji coba secara acak dan dianggap sebanding dengan lithium (untuk mengendalikan gejala manik dan psikotik) dalam uji perbandingan pengobatan akut.
  • Anak-anak dan remaja yang memiliki gangguan bipolar sangat menantang untuk mengobati. Hamrin dan Iennaco telah melakukan tinjauan literatur yang luas menggunakan temuan penelitian tentang efektivitas obat pada populasi ini dan telah mengembangkan pedoman dan rekomendasi untuk obat-obatan dan pendekatan manajemenThe US Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui beberapa rejimen pengobatan bipolar 

Perhatian dalam terapi polyantipsychotic di gangguan bipolar

  • Brooks dkk menilai keamanan dan tolerabilitas yang terkait dengan generasi kedua polytherapy antipsikotik dalam gangguan bipolar. [90] Penelitian ini berusaha untuk mengevaluasi keamanan dan tolerabilitas generasi kedua antipsikotik (SGA) polytherapy dibandingkan dengan monoterapi pada pasien dengan gangguan bipolar menerima terbuka pengobatan naturalistik dalam 22-site pengobatan Systematic Program Peningkatan untuk Bipolar Disorder (STEPBD).
  • Setelah mengontrol penyakit onset, usia, tingkat keparahan penyakit dasar, dan beban pengobatan, pasien yang diberi resep polytherapy dibandingkan dengan monoterapi memiliki mulut lebih kering, disfungsi seksual, dan sembelit dan hampir 3 kali lebih mungkin untuk menimbulkan perawatan yang lebih psikiatri dan medis. Tidak ada hubungan dengan skor fungsi global yang lebih besar atau persentase dari hari dihabiskan dengan baik tercatat.
  • Studi menyimpulkan bahwa meskipun polytherapy cukup umum dalam gangguan bipolar, itu dikaitkan dengan peningkatan efek samping dan peningkatan penggunaan pelayanan kesehatan tetapi tidak dengan status klinis membaik atau fungsi. Oleh karena itu, polytherapy di gangguan bipolar mungkin menimbulkan kerugian penting tanpa manfaat yang jelas, penjamin pertimbangan cermat sebelum melakukan intervensi tersebut.

Tabel 1. Regimen Pengobatan menurut FDA untuk gangguan  Bipolar 

Nama Generik
Nama Dagang
Manic Gabungan Pemeliharaan Depresi
Valproate Depakote X      
Carbamazepine extended release Equetro X X    
Lamotrigine Lamictal     X  
Lithium   X   X  
Aripiprazole Abilify X X X  
Ziprasidone Geodon X X    
Risperidone Risperdal X X    
Asenapine Saphris X X    
Quetiapine Seroquel X     X
Chlorpromazine Thorazine X      
Olanzapine Zyprexa X X X  
Olanzapine/fluoxetine combination Symbyax       X
Lurasidone Latuda        
Pada bulan Agustus 2010, FDA mengumumkan bahwa lamotrigin berisiko mengakbatkan meningitis aseptik.


Terapi electroconvulsive

  • Terapi electroconvulsive (ECT) berguna dalam sejumlah kasus. Hal ini telah terbukti sangat efektif dalam pengobatan mania akut. Seringkali, tingkat keparahan gejala, kurangnya respon terhadap obat, atau adanya kontraindikasi obat tertentu memerlukan penggunaan ECT. Dalam sebuah penelitian terhadap 400 pasien dengan mania akut yang menerima ECT, 313 menunjukkan perbaikan klinis yang signifikan.

Tindakan diet

  • Kecuali pasien pada inhibitor monoamine oxidase (MAOIs), tidak ada diet khusus yang diperlukan. Pasien harus disarankan untuk tidak membuat perubahan signifikan dalam asupan garam mereka, karena asupan garam meningkat dapat menyebabkan kadar lithium serum berkurang dan penurunan efisiensi, dan mengurangi asupan dapat menyebabkan peningkatan kadar dan toksisitas.
  • Sebuah meta-analisis oleh Starris dkk menemukan bukti kuat bahwa gejala depresi bipolar dapat ditingkatkan dengan penggunaan adjunctive dari omega3. Namun, tidak meningkatkan bipolar mania.

latihan

  • Pasien dalam fase depresi didorong untuk berolahraga. Mengusulkan jadwal latihan rutin untuk semua pasien, terutama mereka dengan gangguan bipolar.
  • Baik latihan dan jadwal teratur adalah kunci untuk bertahan hidup penyakit ini. Namun, kenaikan tingkat latihan, dengan peningkatan keringat, dapat menyebabkan peningkatan kadar serum lithium dan toksisitas lithium.
  • Medikamentosa
  • Pengobatan yang tepat tergantung pada tahap gangguan bipolar pasien mengalami. Pilihan agen tergantung pada adanya gejala seperti gejala psikotik, agitasi, agresi, dan gangguan tidur. Kategori obat termasuk penstabil mood, antikonvulsan, dan antipsikotik.
  • Ansiolitik, Benzodiazepin  Dengan mengikat reseptor tertentu, agen ini muncul untuk meningkatkan efek GABA dan memfasilitasi penghambatan GABA neurotransmisi dan tindakan pemancar hambat lainnya.
  • Lorazepam (Ativan)  Lorazepam adalah obat penenang hipnotis dengan onset singkat efek dan waktu paruh relatif panjang. Dengan meningkatkan aksi GABA, yang merupakan neurotransmitter inhibisi utama dalam otak, mungkin menekan semua tingkat SSP, termasuk pembentukan limbic dan reticular. Memonitor tekanan darah pasien setelah pemberian dosis lorazepam. Sesuaikan dosis yang diperlukan.
  • Clonazepam (Klonopin)  Clonazepam adalah benzodiazepin long-acting yang meningkatkan penghambatan GABA presinaptik dan mengurangi refleks monosynaptic dan polisinaps. Ini menekan kontraksi otot dengan memfasilitasi penghambatan GABA neurotransmisi dan pemancar hambat lainnya.
  • Penstabil mood  Pengalaman klinis telah menunjukkan bahwa pasien dengan gangguan bipolar memiliki episode yang lebih sedikit dari mania dan depresi ketika diobati dengan obat menstabilkan suasana hatiObat-obat ini berfungsi untuk menstabilkan suasana hati pasien, seperti namanya. Mereka juga dapat meredam ekstrem mania atau depresi.
  • Lithium adalah obat yang biasa digunakan untuk profilaksis dan pengobatan episode manik. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa lithium juga mungkin memiliki peran sarafNamun, juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penurunan kemampuan kemih, hipotiroidisme, hiperparatiroidisme, dan berat badan berkonsentrasi. Temuan konsisten prevalensi tinggi hiperparatiroidisme harus meminta dokter untuk memeriksa konsentrasi kalsium pasien sebelum dan selama pengobatan. Lithium tidak terkait dengan penurunan yang signifikan dalam fungsi ginjal pada sebagian besar pasien, dan risiko stadium akhir gagal ginjal rendahTerapi Lithium dapat berfungsi untuk melindungi dan melestarikan volume hipokampus, berbeda dengan pasien dengan depresi berat (yaitu, unipolar), yang menunjukkan volume hipokampus berkurang.
  • Lithium karbonat (Lithobid)  Lithium dianggap sebagai agen lini pertama untuk profilaksis jangka panjang pada penyakit bipolar, terutama untuk gangguan bipolar klasik dengan euforia mania. Hal ini juga dapat digunakan untuk mengobati mania akut, meskipun tidak dapat dititrasi hingga tingkat yang efektif secepat valproate bisa. Bukti menunjukkan bahwa lithium, tidak seperti mood stabilizer lainnya, mungkin memiliki efek antisuicide tertentu. Pemantauan tingkat darah sangat penting dengan obat ini.
  • antikonvulsan Antikonvulsan telah efektif dalam mencegah perubahan suasana hati yang terkait dengan gangguan bipolar, terutama pada pasien yang dikenal sebagai cyclers cepat. Untuk tahap depresi, stabilisator suasana hati, seperti lithium dan lamotrigin, lebih disukai karena antidepresan dapat mendorong pasien ke dalam episode manik atau memperburuk iritabilitas dalam campuran gejala mania. Gabapentin, meskipun tidak mood stabilizer, juga mungkin memiliki sifat anxiolyticYang paling banyak digunakan antikonvulsan telah carbamazepine, valproate, dan lamotrigin. Baru-baru ini, topiramate dan oxcarbazepine juga sedang mencoba.
  • Carbamazepine (Equetro)  Karbamazepin efektif pada pasien yang tidak menanggapi terapi lithium. Hal ini juga dapat bertindak untuk menghambat kejang diinduksi melalui efek kayu bakar, yang diduga terjadi dengan cara stimulasi limbik diulang. Karbamazepin telah efektif dalam mengobati pasien yang memiliki cepatbersepeda gangguan bipolar atau mereka yang belum responsif terhadap terapi lithium.
    • Natrium valproat, asam valproik, divalproex natrium (Depakene, Depakote, Depakote ER, Depacon, StavzorValproate telah terbukti efektif dalam mengobati dan mencegah mania. Hal ini diklasifikasikan sebagai stabilisator suasana hati dan dapat digunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan lithium. Hal ini berguna dalam mengobati pasien dengan gangguan bipolar cepatbersepeda dan telah digunakan untuk mengobati gangguan agresif atau perilaku. Kombinasi asam valproik dan valproate telah efektif dalam mengobati orang dalam fase manik, dengan tingkat keberhasilan 49%.
  • Lamotrigin (Lamictal, Lamictal ODT) Lamotrigin adalah antikonvulsan yang tampaknya efektif dalam pengobatan fase depresi gangguan bipolar. Hal ini digunakan untuk pengobatan pemeliharaan gangguan bipolar untuk menunda waktu untuk terjadinya episode mood (depresi, mania, hypomania, episode campuran) pada orang dewasa dirawat karena episode suasana hati akut dengan terapi standar.
  • Atypical Antipsikotik  Antipsikotik atipikal yang digunakan semakin untuk pengobatan kedua mania dan suasana hati stabilisasi akut.
  • Asenapine (Saphris)  Mekanisme Asenapine ini aksi tidak diketahui. Hal ini diindikasikan sebagai monoterapi untuk pengobatan akut episode manik atau campuran yang berkaitan dengan gangguan bipolar. Asenapine juga diindikasikan sebagai terapi tambahan dengan lithium atau valproate. Kemanjurannya dianggap dimediasi melalui kombinasi aktivitas antagonis pada dopamin dan serotonin 2 (5HT2) reseptor. Asenapine menunjukkan afinitas tinggi untuk serotonin 5HT1A, 5HT1B, 5HT2A, 5HT2B, 5HT2C, 5HT5, 5HT6, dan reseptor 5HT7; dopamin D2, D3, D4, dan D1 reseptor; alpha 1 dan alpha2 adrenergik; dan reseptor histamin H1, dengan afinitas sedang untuk reseptor H2. Uji in vitro menunjukkan aktivitas antagonis menimbulkan pada reseptor ini. Asenapine diindikasikan untuk pengobatan akut episode manik atau dicampur terkait dengan gangguan bipolar (dengan atau tanpa ciri psikotik).  Informasi resep diperbaharui pada September 2011 untuk memasukkan data dari 52 laporan dari reaksi hipersensitivitas tipe 1.
  • Ziprasidone (Geodon) Ziprasidone merupakan antipsikotik atipikal yang disetujui untuk pengobatan episode akut atau campuran yang berkaitan dengan gangguan bipolar. Hal ini dapat digunakan sebagai pengobatan pemeliharaan sebagai tambahan untuk lithium atau valproate.
  • Quetiapine (Seroquel, Seroquel XR) Quetiapine diindikasikan untuk pengobatan akut episode manik yang terkait dengan gangguan bipolar. Hal ini dapat digunakan sebagai monoterapi atau adjunctively dengan agen seperti lithium atau divalproex.
  • Risperidone (Risperdal, Risperdal Consta, Risperdal MTab) Risperidone diindikasikan untuk pengobatan jangka pendek dari episode manik atau campuran akut yang berkaitan dengan gangguan bipolar. Hal ini dapat digunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan lithium atau valproate. Risperidone dapat digunakan pada orang dewasa dan remaja berusia 10-17 tahun dengan gangguan bipolar.
  • Aripiprazole (Abilify, Abilify Discmelt) Aripiprazole adalah antipsikotik atipikal digunakan untuk pengobatan akut dan pemeliharaan episode manik atau dicampur terkait dengan gangguan bipolar. Hal ini dapat digunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan lithium atau valproate.
  • Olanzapine (Zyprexa, Zyprexa Zydis) Olanzapine digunakan untuk pengobatan akut dan pemeliharaan episode manik atau dicampur terkait dengan gangguan bipolar. Hal ini dapat digunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan lithium atau valproate. Hal ini dapat digunakan pada orang dewasa dan remaja berusia 13-17 tahun dengan gangguan bipolar.
  • Olanzapine dan fluoxetine (Symbyax)  Kombinasi obat termasuk olanzapine, suatu antipsikotik atipikal, dan fluoxetine, sebuah selective serotonin reuptake inhibitor. Obat ini diindikasikan untuk pengobatan akut episode depresi yang terkait dengan gangguan bipolar pada orang dewasa. Efek klinis agen ini belum diteliti pada pasien lebih muda dari 18 tahun.
  • Antipsikotik, 1st Generation  Antipsikotik generasi pertama, juga dikenal sebagai antipsikotik konvensional atau khas, merupakan antagonis dopamin D2 yang kuat. Namun, masing-masing obat di kelas ini memiliki berbagai efek pada reseptor lain, seperti 5HT2 serotonin, alpha1, histaminic, dan reseptor muscarinic.
  • Loxapine dihirup (Adasuve)  Mekanisme Loxapine ini aksi tidak diketahui, tetapi berteori memusuhi dopamin D2 dan serotonin 5HT2A reseptor pusat. Bentuk sediaan inhalasi diindikasikan untuk pengobatan akut agitasi terkait dengan skizofrenia atau gangguan bipolar pada orang dewasa
  • Penanganan Sosial
  1. Self help Sementara berurusan dengan bipolar disorder tidak selalu mudah, tidak harus menjalankan kehidupan Anda. Tetapi untuk sukses mengelola bipolar disorder, Anda harus membuat pilihan cerdas. gaya hidup Anda dan kebiasaan sehari-hari memiliki dampak yang signifikan terhadap suasana hati Anda. Baca terus untuk cara-cara untuk membantu diri Anda sendiri:
  2. Dapatkan pendidikan tentang cara mengatasi gangguan. Pelajari sebanyak yang Anda bisa tentang bipolar. Semakin banyak Anda tahu, semakin baik Anda akan berada dalam membantu pemulihan Anda sendiri.
  3. Jauhkan stress. Hindari stres tinggi dengan menjaga situasi keseimbangan antara pekerjaan dan hidup sehat, dan mencoba teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau pernapasan dalam.
  4. Mencari dukungan Sangat penting untuk memiliki orang yang dapat Anda berpaling untuk meminta bantuan dan dorongan. Cobalah bergabung dengan kelompok pendukung atau berbicara dengan teman yang dipercaya.
  5. Buatlah pilihan yang sehat. Sehat tidur, makan, dan berolahraga kebiasaan dapat membantu menstabilkan suasana hati Anda. Menjaga jadwal tidur yang teratur sangat penting.
  6. Monitor suasana hati Anda. Melacak gejala Anda dan perhatikan tanda-tanda bahwa suasana hati Anda berayun di luar kendali sehingga Anda dapat menghentikan masalah sebelum dimulai.

Referensi

  • Lowry F. Risk for Major Malformations Low With Atypical Antipsychotics. Medscape Medical News [serial online]. Jun 24 2014;Accessed Jul 3 2014. Available at http://www.medscape.com/viewarticle/827286.
  • Susan Jeffrey. FDA Warns of Aseptic Meningitis Risk With Lamotrigine. FDA Warns of Aseptic Meningitis Risk With Lamotrigine. Available at http://www.medscape.com/viewarticle/726845. Accessed August 12, 2010.
  • Sarris J, Mischoulon D, Schweiter I. Omega-3 for Bipolar Disorder: Meta-Analyses of Use in Mania and Bipolar Depression. J Clin Psychiatry. 2011;Online ahead of print..
  • Bowden C, Singh V. Long-term Management of Bipolar Disorder. Available at http://www.medscape.com/viewprogram/2686. Accessed Dec 31, 2003.
  • Price AL, Marzani-Nissen GR. Bipolar disorders: a review. Am Fam Physician. Mar 1 2012;85(5):483-93. [Medline].
  • Ketter TA. Diagnostic features, prevalence, and impact of bipolar disorder. J Clin Psychiatry. Jun 2010;71(6):e14.
  • Sklar P, Smoller JW, Fan J, Ferreira MA, Perlis RH, Chambert K, et al. Whole-genome association study of bipolar disorder. Mol Psychiatry. Jun 2008;13(6):558-69. [Medline].
  • Ferreira MA, O’Donovan MC, et al. Collaborative genome-wide association analysis supports a role for ANK3 and CACNA1C in bipolar disorder. Nat Genet. Sep 2008;40(9):1056-8. [Medline]. [Full Text].
  • Sklar P, Ripke S, Scott LJ, et al. Large-scale genome-wide association analysis of bipolar disorder identifies a new susceptibility locus near ODZ4. Nat Genet. Sep 18 2011;43(10):977-83.
  • Mühleisen TW, Leber M, Schulze TG, Strohmaier J, Degenhardt F, Treutlein J. Genome-wide association study reveals two new risk loci for bipolar disorder. Nat Commun. 2014;5:3339.
  • Erk S, Meyer-Lindenberg A, Schmierer P, Mohnke S, Grimm O, Garbusow M, et al. Hippocampal and Frontolimbic Function as Intermediate Phenotype for Psychosis: Evidence from Healthy Relatives and a Common Risk Variant in CACNA1C. Biol Psychiatry. Dec 8 2013
  • Fears SC, Service SK, Kremeyer B, Araya C, Araya X, Bejarano J. Multisystem component phenotypes of bipolar disorder for genetic investigations of extended pedigrees. JAMA Psychiatry. Apr 1 2014;71(4):375-87.
  • Chen CH, Lee CS, Lee MT, Ouyang WC, Chen CC, Chong MY, et al. Variant GADL1 and response to lithium therapy in bipolar I disorder. N Engl J Med. Jan 9 2014;370(2):119-28.
  • Keller DM. Biomarker Effectively Stages Bipolar Disorder. Available at http://www.medscape.com/viewarticle/782184. Accessed April 16, 2013.
  • olar disorder: a diffusion tensor imaging study. Bipolar Disord. Jun 2004;6(3):197-203.
  • Houenou J, Frommberger J, Carde S, et al. Neuroimaging-based markers of bipolar disorder: Evidence from two meta-analyses. J Affect Disord. Aug 2011;132(3):344-55.
  • Chen G, Zeng WZ, Yuan PX, et al. The mood-stabilizing agents lithium and valproate robustly increase the levels of the neuroprotective protein bcl-2 in the CNS. J Neurochem. Feb 1999;72(2):879-82. [Medline].
  • Konradi C, Zimmerman EI, Yang CK, Lohmann KM, Gresch P, Pantazopoulos H, et al. Hippocampal interneurons in bipolar disorder. Arch Gen Psychiatry. Apr 2011;68(4):340-50.
  • Mathew SJ, Manji HK, Charney DS. Novel drugs and therapeutic targets for severe mood disorders. Neuropsychopharmacology. Aug 2008;33(9):2080-92. [Medline].
  • Post RM, Speer AM, Hough CJ, Xing G. Neurobiology of bipolar illness: implications for future study and therapeutics. Ann Clin Psychiatry. Jun 2003;15(2):85-94. [Medline].
  • The HUGE Project; Research Program on Genes, Environment, and Health. Multi-Ethnic Genome Wide Association Study of Bipolar Disorder. Kaiser Permanente. [Full Text].
  • Hashimoto K, Sawa A, Iyo M. Increased levels of glutamate in brains from patients with mood disorders. Biol Psychiatry. Dec 1 2007;62(11):1310-6
  • Barnett JH, Huang J, Perlis RH, et al. Personality and bipolar disorder: dissecting state and trait associations between mood and personality. Psychol Med. Aug 2011;41(8):1593-604.
  • Chaudron LH, Pies RW. The relationship between postpartum psychosis and bipolar disorder: a review. J Clin Psychiatry. Nov 2003;64(11):1284-92.
  • Calabrese JR. Overview of patient care issues and treatment in bipolar spectrum and bipolar II disorder. J Clin Psychiatry. Jun 2008;69(6):e18.
  • Merikangas KR, Jin R, He J-P, et al. Prevalence and correlates of bipolar spectrum disorder in the World Mental Health Survey Initiative. Arch Gen Psychiatry. 2011;68(3):241-251.
  • Hoang U, Stewart R, Goldacre MJ. Mortality after hospital discharge for people with schizophrenia or bipolar disorder: retrospective study of linked English hospital episode statistics, 1999-2006. BMJ. Sep 13 2011;343:d5422.
  • Crump C, Sundquist K, Winkleby MA, Sundquist J. Comorbidities and Mortality in Bipolar Disorder: A Swedish National Cohort Study. JAMA Psychiatry. Jul 17 2013;
  • Dogan S, Sabanciogullari S. The effects of patient education in lithium therapy on quality of life and compliance. Arch Psychiatr Nurs. Dec 2003;17(6):270-5. .
  • National Institute of Mental Health. A story of bipolar disorder (manic-depressive illness). [Full Text].
  • Webb M. The Years of Silence Are Past: My Father’s Life With Bipolar Disorder. Am J Psychiatry. Dec 1 2003;160(12):2257.
  • Journal of Affective Disorders. Misdiagnosing bipolar disorder – Do clinicians show heuristic biases?. May 2011;130(3):405-12.
  • American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, Text Revision, DSM-IV-TR. Washington, DC: 2000.
  • Frye MA. Diagnostic dilemmas and clinical correlates of mixed states in bipolar disorder. J Clin Psychiatry. May 2008;69(5):e13.
  • Angst J, Gamma A, Bowden CL, et al. Diagnostic criteria for bipolarity based on an international sample of 5,635 patients with DSM-IV major depressive episodes. Eur Arch Psychiatry Clin Neurosci. Feb 2012;262(1):3-11.
  • Angst J, Azorin JM, Bowden CL, Perugi G, Vieta E, Gamma A, et al. Prevalence and characteristics of undiagnosed bipolar disorders in patients with a major depressive episode: the BRIDGE study. Arch Gen Psychiatry. Aug 2011;68(8):791-8. [Medline].
  • Dubovsky S. The Real Risk for Suicide in Mental Disorders. Medscape News Today. Available at http://www.medscape.com/viewarticle/754885?sssdmh=dm1.779217&src=journalnl%20accessed. Accessed April 26, 2012.
  • Bellivier F, Yon L, Luquiens A, et al. Suicidal attempts in bipolar disorder: results from an observational study (EMBLEM). Bipolar Disord. Jun 2011;13(4):377-386. Psychiatry. Jun 2008;69(6):e16.
  • Keck PE Jr. Evaluating Treatment Decisions in Bipolar Depression. Available at http://www.medscape.com/viewprogram/2571. Accessed Dec 30, 2003.
  • Hong CJ, Huo SJ, Yen FC, Tung CL, Pan GM, Tsai SJ. Association study of a brain-derived neurotrophic-factor genetic polymorphism and mood disorders, age of onset and suicidal behavior. Neuropsychobiology. 2003;48(4):186-9.
  • Ilgen MA, Bohnert AS, Ignacio RV, McCarthy JF, Valenstein MM, Kim HM, et al. Psychiatric diagnoses and risk of suicide in veterans. Arch Gen Psychiatry. Nov 2010;67(11):1152-8.
  • Fazel S, Lichtenstein P, Grann M, Goodwin GM, Långström N. Bipolar disorder and violent crime: new evidence from population-based longitudinal studies and systematic review. Arch Gen Psychiatry. Sep 2010;67(9):931-8.
  • Saarni SI, Viertiö S, Perälä J, Koskinen S, Lönnqvist J, Suvisaari J. Quality of life of people with schizophrenia, bipolar disorder and other psychotic disorders. Br J Psychiatry. Nov 2010;197:386-94.
  • Fiedorowicz JG, Endicott J, Leon AC, Solomon DA, Keller MB, Coryell WH. Subthreshold hypomanic symptoms in progression from unipolar major depression to bipolar disorder. Am J Psychiatry. Jan 2011;168(1):40-8.
  • Leibenluft E. Severe mood dysregulation, irritability, and the diagnostic boundaries of bipolar disorder in youths. Am J Psychiatry. Feb 2011;168(2):129-42. .
  • Saunders EF, Nazir R, Kamali M, et al. Gender differences, clinical correlates, and longitudinal outcome of bipolar disorder with comorbid migraine. J Clin Psychiatry. Apr 15 2014;
  • Tohen M, Zarate CA Jr, Hennen J, Khalsa HM, Strakowski SM, Gebre-Medhin P, et al. The McLean-Harvard First-Episode Mania Study: prediction of recovery and first recurrence. Am J Psychiatry. Dec 2003;160(12):2099-107.
  • Goldstein TR, Ha W, Axelson DA, et al. Predictors of Prospectively Examined Suicide Attempts Among Youth With Bipolar Disorder. Arch Gen Psychiatry. Jul 2 2012;1-10.
  • Schottle D, Huber CG, Bock T, Meyer TD. Psychotherapy for bipolar disorder: a review of the most recent studies. Curr Opin Psychiatry. Nov 2011;24(6):549-55.
  • McIntyre RS, Soczynska JK, Beyer JL, Woldeyohannes HO, Law CW, Miranda A, et al. Medical comorbidity in bipolar disorder: re-prioritizing unmet needs. Curr Opin Psychiatry. Jul 2007;20(4):406-16.
  • Bradford DW, Kim MM, Braxton LE, Marx CE, Butterfield M, Elbogen EB. Access to medical care among persons with psychotic and major affective disorders. Psychiatr Serv. Aug 2008;59(8):847-52.
  • Bartels SJ, Pratt SI, Aschbrenner KA, et al. Clinically Significant Improved Fitness and Weight Loss Among Overweight Persons With Serious Mental Illness. Psychiatr Serv. May 15 2013;[
  • Woltmann E, Grogan-Kaylor A, Perron B, Georges H, Kilbourne AM, Bauer MS. Comparative effectiveness of collaborative chronic care models for mental health conditions across primary, specialty, and behavioral health care settings: systematic review and meta-analysis. Am J Psychiatry. Aug 1 2012;169(8):790-804.
  • Bauer M, Ritter P, Grunze H, Pfennig A. Treatment options for acute depression in bipolar disorder. Bipolar Disord. May 2012;14 Suppl 2:37-50.
  • Lowry F. New Recs for Antidepressant Use in Bipolar Patients Released. Medscape Medical News. Available at http://www.medscape.com/viewarticle/806788. Accessed July 2, 2013.
  • Post RM, Leverich GS, Altshuler LL, et al. Relationship of prior antidepressant exposure to long-term prospective outcome in bipolar I disorder outpatients. J Clin Psychiatry. Mar 20 2012;
  • Kwentus J, Riesenberg RA, Marandi M, Manning RA, Allen MH, Fishman RS, et al. Rapid acute treatment of agitation in patients with bipolar I disorder: a multicenter, randomized, placebo-controlled clinical trial with inhaled loxapine. Bipolar Disord. Feb 2012;14(1):31-40.
  • Lesem MD, Tran-Johnson TK, Riesenberg RA, Feifel D, Allen MH, Fishman R, et al. Rapid acute treatment of agitation in individuals with schizophrenia: multicentre, randomised, placebo-controlled study of inhaled loxapine. Br J Psychiatry. Jan 2011;198(1):51-8.
  • Bauer M, Alda M, Priller J, Young LT. Implications of the neuroprotective effects of lithium for the treatment of bipolar and neurodegenerative disorders. Pharmacopsychiatry. Nov 2003;36 Suppl 3:S250-4.
  • McKnight RF, Adida M, Budge K, Stockton S, Goodwin GM, Geddes JR. Lithium toxicity profile: a systematic review and meta-analysis. Lancet. Feb 25 2012;379(9817):721-8.
  • Hajek T, Kopecek M, Höschl C, Alda M. Smaller hippocampal volumes in patients with bipolar disorder are masked by exposure to lithium: a meta-analysis. J Psychiatry Neurosci. Apr 16 2012;37(3):110143.
  • Cipriani A, Hawton K, Stockton S, Geddes JR. Lithium in the prevention of suicide in mood disorders: updated systematic review and meta-analysis. BMJ. Jun 27 2013;346:f3646.
  • Ansari A, Osser DN. The psychopharmacology algorithm project at the Harvard South Shore Program: an update on bipolar depression. Harv Rev Psychiatry. 2010;18(1):36-55.
  • Diazgranados N, Ibrahim L, Brutsche NE, Newberg A, Kronstein P, Khalife S, et al. A randomized add-on trial of an N-methyl-D-aspartate antagonist in treatment-resistant bipolar depression. Arch Gen Psychiatry. Aug 2010;67(8):793-802.
  • Sidor MM, Macqueen GM. Antidepressants for the acute treatment of bipolar depression: a systematic review and meta-analysis. J Clin Psychiatry. Feb 2011;72(2):156-67.
  • Kessing LV, Hellmund G, Geddes JR, Goodwin GM, Andersen PK. Valproate v. lithium in the treatment of bipolar disorder in clinical practice: observational nationwide register-based cohort study. Br J Psychiatry. Jul 2011;199:57-63.
  • Geddes JR, Goodwin GM, Rendell J, et al. Lithium plus valproate combination therapy versus monotherapy for relapse prevention in bipolar I disorder (BALANCE): a randomised open-label trial. Lancet. Jan 30 2010;375(9712):385-95.
  • Pappadopulos E, Newcomer JW, Kolluri S. Changes in weight, plasma lipids, and glucose in adults treated with ziprasidone: a comprehensive analysis of pfizer-initiated clinical trials. J Clin Psychiatry. Jun 2012;73(6):e742-8.
  • Findling RL, Correll CU, Nyilas M, Forbes RA, McQuade RD, Jin N, et al. Aripiprazole for the treatment of pediatric bipolar I disorder: a 30-week, randomized, placebo-controlled study. Bipolar Disord. Mar 2013;15(2):138-149.
  • Lowes R. Lurasidone Approved for Bipolar Depression. Medscape Medical News. Available at http://www.medscape.com/viewarticle/807204. Accessed July 30, 2013.
  • Smith LA, Cornelius V, Warnock A, Bell A, Young AH. Effectiveness of mood stabilizers and antipsychotics in the maintenance phase of bipolar disorder: a systematic review of randomized controlled trials. Bipolar Disord. Jun 2007;9(4):394-412.
  • Cipriani A, Barbui C, Salanti G, et al. Comparative efficacy and acceptability of antimanic drugs in acute mania: a multiple-treatments meta-analysis. Lancet. Aug 16 2011;[Medline].
  • Swartz HA, Thase ME. Pharmacotherapy for the treatment of acute bipolar II depression: current evidence. J Clin Psychiatry. Mar 2011;72(3):356-66.
  • [Guideline] Hirschfeld RMA (Chair); Work Group on Bipolar Disorder. Practice Guideline for the Treatment of Patients With Bipolar Disorder, Second Edition. Review and Synthesis of Available Evidence. Somatic Treatments of Acute Manic and Mixed Episodes. American Psychiatric Association.
  • Hamrin V, Iennaco JD. Psychopharmacology of pediatric bipolar disorder. Expert Rev Neurother. Jul 2010;10(7):1053-88.
  • Gutman DA, Nemeroff C. Atypical Antipsychotics in Bipolar Disorder. Medscape. Available at http://www.medscape.com/viewarticle/554128. Accessed June 27, 2007.
  • Brooks JO 3rd, Goldberg JF, Ketter TA, Miklowitz DJ, Calabrese JR, Bowden CL, et al. Safety and tolerability associated with second-generation antipsychotic polytherapy in bipolar disorder: findings from the Systematic Treatment Enhancement Program for Bipolar Disorder. J Clin Psychiatry. Feb 2011;72(2):240-7.
  • American College of Neuropsychopharmacology. American College of Neuropsychopharmacology 2010 Annual Meeting Abstracts. December 5-9, 2010; Miami Beach, Florida.

Provided By:

MEDIA INDONESIA SEHAT Without health life is not life; it is only a state of langour and suffering – an image of death”. When wealth is lost, nothing is lost; when health is lost, something is lost; when character is lost, all is lost”. To keep the body in good health is a duty… otherwise we shall not be able to keep our mind strong and clear. Editor in Chief : Audi Yudhasmara, Associate Editors: Sandiaz Yudhasmara Senior Advisory Panel Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician, Dr Narulita Dewi SpKFR, email : audiyudhasmara@yahoo.com Mobile Phone 08992355752 PIN BBM 7413A117 Komunikasi dan Konsultasi online www.facebook.com/mediaindonesiasehat *** Indonesia Medical Student – Facebook *** Mahasiswa Kedokteran Indonesia – Facebook twitter: @audiyudhasmara facebook: www.facebook.com/Audi.Yudhasmara

Supported By GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 97730777 email : judarwanto@gmail.com www.growupclinic.com
“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2014, Media Indonesia Sehat Information Education Network. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s