Penggunaan Obat Tidak Rasional, Rational Use of Medicine (RUM) dan Dampaknya

image

Penggunaan obat yang tidak rasional yang tidak sesuai Rational Use of Medicine (RUM) ternyata masih banyak terjadi di Indonesia. Maslah klasik uang sulit dikendalikan ini menjadi tanggung jawab pembuat kebijakan, asosiasi profesi tenaga kesehatan, industri farmasi, dokter, apoteker, hingga media massa dan pasien. Kerja sama dan dukungan semua pihak diperlukan untuk memperbaiki kualitas pola pengobatan menjadi rasional sebagaimana dianjurkan Badan Kesehatan Dunia WHO. Rational Use of Medicine (RUM) dikenal dengan istilah Penggunaan Obat Yang Rasional. Istilah Penggunaan Obat Yang Rasional sendiri dalam bahasa Inggris juga sering disebut Rational Use of Drug (RUD). Sehingga RUD atau RUM sebenarnya memiliki makna yang sama.

Menurut WHO, pengobatan yang rasional adalah pemberian obat yang sesuai kebutuhan pasien, dalam dosis yang sesuai dan periode waktu tertentu, serta dengan biaya serendah mungkin baik bagi pasien maupun komunitasnya. Pola pengobatan yang tidak mengikuti kaidah-kaidah di atas adalah pola pengobatan tidak rasional.

Definisi RUM menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan Rational Use of Medicine adalah  :“ Patients receive medications appropriate to their clinical needs, in doses that meet their own individual requirements, for an adequate period time, and at the lowest cost to them and their community.” “Pasien menerima pengobatan yang sesuai dengan kebutuhan klinis mereka, dalam dosis yang sesuai dengan kebutuhan individual, untuk jangka waktu yang sesuai dan dalam biaya terapi yang terendah bagi pasien maupun komunitas mereka.”

Pengobatan Rasional

1. Tepat Pasien Obat hanya diberikan berdasarkan ketepatan tenaga kesehatan dalam menilai kondisi pasien dengan mempertimbangkan :

  • Adanya penyakit yang menyertai, misalnya pasien dengan kelainan ginjal atau hati tidak boleh mendapatkan obat yang dapat mempengaruhi ginjal (nefrotoksik) atau hati (hepatotoksik)
  • Kondisi khusus : hamil, menyusui, balita, lansia
  • Pasien dengan riwayat alergi
  • Pasien dengan riwayat psikologis.

2. Tepat Indikasi Apabila ada indikasi yang benar untuk penggunaan obat tersebut sesuai diagnosa dan telah terbukti manfaat terapinya. Prinsip Tepat Indikasi adalah tidak semua pasien memerlukan intervensi obat. Di beberapa negara berkembang, persentase peresepan antibiotika yang sebenarnya tidak perlu diberikan berkisar antara 52% sampai 62%. Data yang terekam dari Indonesia berdasarkan survei yang dilakukan YOP mencatat sedikitnya 47% antibiotika yang diberikan sebenarnya tidak diperlukan. Penggunaan antibiotika yang tidak tepat ini akan menimbulkan masalah baru, yaitu resistensi kuman.

3. Tepat Obat Adalah ketepatan pemilihan obat dengan mempertimbangkan:

  • Ketepatan kelas terapi dan jenis obat sesuai dengan efek terapi yang diperlukan.
  • Kemanfaatan dan keamanan obat sudah terbukti, baik resiko efek sampingnya maupun adanya kontraindikasi.
  • Jenis obat paling mudah didapat.
  • Sedikit mungkin jumlah jenis obat yang dipakai
  • Pemilihan obat harus disesuaikan dengan efek klinik yang diharapkan.

4. Tepat Pemberian, Dosis dan Lama Pemberian Obat Efek obat yang maksimal diperlukan penentuan dosis, cara dan lama pemberian obat yang tepat. Besarnya dosis, cara dan frekuensi pemberian obat umumnya didasarkan pada sifat farmakokinetik dan farmakodinamik obat serta kondisi pasien. Sedangkan lama pemberian obat berdasarkan pada sifat penyakit, apakah penyakit akut atau kronis, kambuhan berulang, dan sebagainya.

  • Tepat Dosis adalah ketepatan jumlah obat yang diberikan pada pasien, dimana dosis berada dalam range dosis terapi yang direkomendasikan serta disesuaikan dengan usia dan kondisi pasien. Misalnya pasien anak > 60 kg biasanya disarankan menggunakan dosis dewasa. Usia lanjut atau pasien dengan kerusakan ginjal dan hati biasanya memerlukan penyesuaian dosis.
  • Tepat Cara Pemberian Obat adalah ketepatan pemilihan bentuk sediaan obat yang diberikan sesuai dengan diagnosa, kondisi pasien dan sifat obat. Misalnya per oral (melalui mulut), per rektal (melalui dubur), per vaginal (melalui vagina), parenteral (melalui suntikan, bisa intravena, intramuskular, subkutan) atau topikal (dioleskan di kulit, seperti krim, gel, salep). Jika obat masih bisa diberikan melalui oral, hindari pemberian melalui parenteral. Jika terapi cukup secara lokal melalui obat-obat topikal, tidak perlu diberikan melalui oral.
  • Tepat Frekuensi atau Interval Pemberian Obat adalah ketepatan penentuan frekuensi atau interval pemberian obat sesuai dengan sifat obat dan profil farmakokinetiknya, misalnya tiap 4 jam, 6 jam, 8 jam, 12 jam atau 24 jam. Jika obat dalam tubuh akan habis dalam waktu 8 jam, sebaiknya obat diberikan 3 kali sehari.
  • Tepat Lama Pemberian Obat adalah penetapan lama pemberian obat sesuai dengan diagnosa penyakit dan kondisi pasien. Apakah obat cukup diminum hingga gejala hilang saja, atau obat perlu diminum selama 3 hari, 5 hari, 3 bulan, dll.
  • Tepat Saat Pemberian Obat adalah ketepatan menentukan saat terbaik pemberian obat sesuai dengan sifat obat dan kondisi pasien. Apakah obat diberikan sebelum makan, sesudah makan, saat makan, sebelum operasi atau sesudah operasi, dll.

5. Tepat Biaya Biaya terapi (harga obat dan biaya pengobatan) hendaknya dipilih yang paling terjangkau oleh keuangan pasien. Mengutamakan meresepkan obat-obat generik dibandingkan obat paten yang harganya lebih mahal.

6. Tepat Informasi Apabila informasi yang diberikan jelas (tidak bias) baik, baik tentang obat yang digunakan pasien maupun informasi lainnya yang menunjang perbaikan pengobatan. Misalnya informasi tentang cara pemakaian obat, efek samping, kegagalan terapi bila tidak taat, upaya yang dilakukan bila penyakit makin memburuk, mencegah faktor resiko terjadi penyakit, dll.

Penggunaan obat Rasional dalam konteks biomedik mencakup beberapa kriteria, yaitu (Management Science for Health, 2012)  :

  1. Tepat indikasi, dimana peresepan berdasarkan kepada pertimbangan medis
  2. Tepat obat, mempertimbangkan keefektifan, keamanan, kecocokan obat dengan pasien, dan harga
  3. Tepat dosis, pemberian dan durasi terapi
  4. Tepat pasien, bahwa tidak ada kontra indikasi, dan kemungkinan terjadinya efek samping sangat kecil
  5. Benar cara penyerahan obat, termasuk pemberian informasi yang tepat yang diberikan pada pasien berkaitan dengan obat yang diresepkan
  6. Kepatuhan pasien terhadap obat.

Manfaat RUM

  • Mencegah dampak penggunaan obat yang tidak tepat yang dapat membahayakan pasien. Hal ini berhubungan dengan poin 1 hingga 4 dari 6 poin RUM, yaitu tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, tepat cara pemberian, dosis dan frekuensi.
  • Mempermudah dan membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk memperoleh obat dengan harga terjangkau. Sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat ikut ‘menikmati’ obat dengan adanya prinsip tepat biaya.
  • Meningkatkan efektivitas  dan efisiensi belanja obat di institusi-institusi seperti RSUD, Puskesmas sebagai salah satu upaya cost effective medical intervention. Dengan demikian semakin banyak pasien yang bisa diobati.
  • Meningkatkan kepercayaan masyarakat (pasien) terhadap mutu pelayanan kesehatan.

Penggunaan Obat Irasional

Penggunaan obat tidak rasional terjadi pada semua Negara dan pada semua tatacara pelayanan kesehatan, dari rumah sakit sampai di rumah. Hal tersebut mencakup masalah pemberian obat yang sebenarnya tidak dibutuhkan tetapi diresepkan, obat yang salah, tidak aman, atau tidak efektif tetapi tetap diresepkan atau diserahkan, obat yang efektif tersedia tetapi tidak digunakan, dan penggunaan obat yang tidak benar oleh pasien. Contoh penggunaan obat yang tidak rasional

  • Polifarmasi Polifarmasi terjadi ketika pasien menggunakan banyak obat dari yang kebutuhan yang seharusnya. Polifarmasi dinilai dengan menghitung jumlah obat rata-rata yang diresepkan pada pasien
  • Penggunaan obat yang tidak perlu Seringkali, pengobatan yang diterima pasien tidak diperlukan. Penggunaan obat yang tidak diperlukan biasanya sering tidak sesuai dengan kebutuhan terapi
  • Penggunaan obat yang salah Dengan berbagai alasan, penggunaan obat yang salah sering terjadi dalam perespan ataupun penyerahan obat pada pasien. Data dari Negara maju dan Negara yang dalam masa transisi mengindikasikan bahwa kurang dari 40 % pasien yang menerima terapi sesuai dengan standar terapi
  • Penggunaan obat yang tidak efektif dan obat dengan keamanan yang diragukan Penggunaan obat yang tidak efektif kadang-kadang diberikan pada pasien karena sudah umum digunakan atau karena pasien berfikir bahwa obat yang umum diresepkan adalah lebih baik
  • Obat yang tidak aman Kemungkinan terjadinya efek samping yang berat terjadi ketika obat yang tidak aman diresepkan. Contoh yang umum adalah ketika steroid digunakan untuk merangsang pertumbuhan dan nafsu makan pada anak-anak dan atlet.

Dampak Pengobatan Tidak rasional

Penggunaan obat yang tidak rasional dalam skala yang luas bisa menyebabkan terjadinya efek samping terhadap biaya pelayanan kesehatan, kualitas terapi dan pelayanan medik, sebagaimana telah menjadi penyebab terjadinya resistensi mikroba. Efek samping lain kemungkinan juga meningkat dan akan menimbulkan ketidakpercayaan pasien terhadap obat

  • Kualitas terapi dan pengobatan Peresepan obat yang tidak tepat dapat aja terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung. Dapat memperburuk kualitas hidup pasien dan memberikan pengaruh yang negative terhadap hasil terapi. Kemungkinan terjadinya reaksi efek samping meningkat ketika obat yang diresepkan ternyata tidak diperlukan. Sebagai contoh, terjadinya over dosis gentamisin dapat menyebabkan masalah pendengaran yang serius, penyalahgunaan produk injeksi dapat menyebabkan penulatan HIV, hepatitis B dan C, dan penyakit lain yang penularannya melalui darah
  • Resistensi antimikroba Penggunaan jangka panjang atau penggunaan antibiotika dengan dosis yang tidak sesuai atau punggunaan zat-zat untuk kemoterapi dapat menyebabkan terjadinya resistensi strain mikroba dan parasit malaria. Keuntungan dalam bidang kesehatan yang berasal dari penemuan antimikroba dapat membahayakan karena meluasnya resistensi antimikroba terhadap antibiotika yang merupakan pilihan pertama dengan harga yang murah. Terjadinya resistensi terhadap antimikroba merupakan fnomena biologi yang alami yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor termasuk oleh faktor manusia. Penggunaan antimikroba pada beberapa dosis dan periode waktu akan memaksa mikroba untuk beradaptasi atau mati, mikroba yang mampu beradaptasi dan bertahan memiliki gen resistensi yang akan diwariskan. Bakteri yang menginfeksi yang merupakan mikroba yang resisten terutama akan menyebabkan diare, infeksi saluran pernafasan, tuberculosis dan hospital-acquired infections. Ketika infeksi menjadi resisten terhadap antibiotika lini pertama , terapi harus beralih pada antibiotic lini kedua atau lini pertama yang biasanya akan lebih mahal atau lebih toksik.
  • Biaya Besar Berlebihan atau penggunaan obat yang tidak tepat, meskipun salah satunya esensial, dapt menyebabkan terjadinya pemborosan baik pasien ataupun pada sistem kesehatan. Di banyak Negara, penggunaan produk farmasi yang tidak esensial, seperti multivitamin atau obat batuk menghabiskan sumber daya keuangan yang terbatas yang secara bijaksana dapat dialihkan kepada obat lain yang lebih esensial dan penting, seperti vaksin dan antibiotika. Penggunaan obat yang tidak tepat pada tahapan awal penyakit bisa menyebabkan bertambahnya biaya dengan memperlama penyakit dan mungkin juga perawatan.
  • Psikososial Peresepan yang berlebihan membuat pasien percaya bahwa mereka membutuhkan pengobatan untuk semua kondisi. Meskipun untuk hal yang ringan. Pasien akan lebih tergantung pada obat. Ketergantungan ini akan menyebabkan meningkatnya permintaan. Pasien mungkin akan meminta injeksi yang tidak dibutuhkan karena mereka telah terbiasa diservis dengan sistem kesehatan yang moderen, kemudian mereka akan terbiasa mendapatkan injeksi. Penelitian juga menunjuukkan bahwa pasien juga akan meminta dan berharap dokter antibiotic yang sebenarnya tidak diperlukan untuk mengobati infeksi virus.
  • Bakteri “Super Bugs” Pemberian antibiotika yang berlebihan dan tidak terkendali saat ini membuahkan akibatnya. Beberapa ahli kesehatan di penjuru dunia mulai menemukan sebuah bakteri superbug atau bakteri yang kebal terhadap antibiotika. Berbeda dengan berbagai temuan berbagai virus baru ganas seperti flu burung, SARS atau flu babi yang dapat sembuh sendiri tanpa diobati. Bakteri ganas ini bila menjangkiti seseorang, maka orang tersebut akan terancam nyawanya tanpa ada obat atau antibiotika yang melawannya.Bakteri “super” atau superbug yang bernama NDM-1 (New Delhi Metallo-beta-laktamase-1) ini telah muncul di India, Pakistan, Inggris, Amerika dan berbagai belahan dunia lainnya. Bakteri ini juga telah menyebar di rumah sakit di Inggris, para ahli kesehatan dunia memperingatkan bakteri “super” ini bisa menjadi masalah besar di seluruh dunia. Ilmuwan Inggris menyebut bakteri ini tersebar akibat ulah para “wisatawan” medis yang kerap melakukan operasi plastik untuk kecantikan di negara tersebut. Kasus kematian akibat super bakteri ini pertama kali dilaporkan ketika seorang warga Belgia meninggal setelah melakukan pengobatan medis di India. Beberapa kasus lainnya juga didapati setelah penderita melakukan operasi plastik atau operasi kosmetik di India. Para ilmuwan takut bakteri bernama NDM-1 (New Delhi Metallo-beta-laktamase-1) bisa masuk dengan mudah di dalam bakteri seperti E.coli. Bila sampai terjadi bakteri ini bisa menyebar dengan cepat dan hampir mustahil untuk bisa diobati. Sebab,menurut para ilmuwan NDM-1 bisa mengubah bakteri, menjadi kebal terhadap antibiotik yang paling kuat saat ini yaitu carbapenems. “Ada sejumlah kasus di Inggris, namun sejauh ini sejumlah besar kasus tampaknya terkait dengan perjalanan dan perawatan rumah sakit di India,” kata Dr David Livermore, peneliti Inggris Health Protection Agency kepada BBC. “Jenis resistensi ini telah menyebar sangat luas di sana.” Di Amerika Serikat kasus NDM-1 juga telah diidentifikasi antara bulan Januari dan Juni lalu, Wall Street Journal menuliskan soal ini. Menurut Pusat pengawasan pencengahan penyakit Amerika (CDC/Centers for Disease Control and Prevention) para pasien ini telah menjalani perawatan medis di India.

PERANAN BERBAGAI PIHAK

  • Tidak mudah menyelesaikan permasalahan budaya penggunaan obat atau antibiotika yang berlebihan ini. Berbagai individu dalam lapisan masyarakat  harus mawas diri dan bertanggung jawab untuk segera menghentikannya. Banyak pihak yang berperanan dan terlibat dalam penggunaan antibiotika berlebihan ini. Pihak yang terlibat mulai dari penderita (orang tua penderita), dokter, rumah sakit, apotik, medical sales representatif, perusahaan farmasi dan pabrik obat.
  • Orangtua juga sering sebagai faktor terjadinya penggunaan antibiotika yang berlebihan. Pendapat umum tidak benar yang terus berkembang,  bahwa kalau tidak memakai antibiotika maka penyakitnya akan lama sembuh. Tidak jarang penggunaan antibiótika adalah permintaan dari orang tua. Yang lebih mengkawatirkan saat ini beberapa orang tua dengan tanpa beban membeli sendiri antibiotika tersebut tanpa pertimbangan dokter. Antibiotika yang merupakan golongan obat terbatas, obat yang harus diresepkan oleh dokter.  Tetapi runyamnya ternyata obat antibiotika tersebut mudah didapatkan di apotik atau di toko obat meskipun tanpa resep dokter.
  • Persoalan menjadi lebih rumit karena ternyata bisnis perdagangan antibiotika sangat menggiurkan. Pabrik obat, perusahaan farmasi, medical sales representatif, toko obat dan apotik  sebagai pihak penyedia obat mempunyai banyak kepentingan.  Antibiotika merupakan bisnis utama mereka, sehingga banyak strategi dan cara dilakukan. Dokter sebagai penentu penggunaan antibiotika ini, harus lebih bijak dan harus lebih mempertimbangkan latar belakang ke ilmuannya. Sesuai sumpah dokter yang pernah diucapkan, apapun pertimbangan pengobatan semuanya adalah demi kepentingan penderita, bukan kepentingan lainnya. Percaya diri  pada klinisi adalah merupakan salah satu faktor hambatan untuk menghentikan kebiasaan pemberian antibiotika irasional.  Peningkatan pengetahuan dan kemampuan secara berkala dan berkelanjutan dokter juga ikut berperanan dalam mengurangi perilaku yang sangat merugikan ini.

  • Departemen Kesehatan (Depkes), Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Ikatan dokter Indonesia (IDI), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Persatuan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) dan beberapa intitusi terkait lainnya harus bekerjasama dalam penanganannya. Pendidikan tentang bahaya dan indikasi pemakaian antibiotika yang benar  terhadap masyarakat  harus terus dilakukan melalui berbagai media yang ada. Penertiban penjualan obat antibiotika oleh apotik dan lebih khusus lagi toko obat harus terus dilakukan tanpa henti. Organisasi profesi kedokteran harus terus berupaya mengevaluasi dan melakukan pemantauan lebih ketat tentang perilaku penggunaan antibiótika yang berlebihan ini terhadap anggotanya. Kalau perlu secara berkala dilakukan penelitian secara menyeluruh terhadap penggunaan antibitioka yang berlebihan ini. Sebaiknya praktek dan strategi promosi obat antibiotika yang tidak sehat juga harus menjadi perhatian. Bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan dokter, meskipun hanya demi kepentingan kegiatan ilmiah.  PERSI sebagai wadah organisasi rumah sakit, juga berwenang memberikan pengawasan kepada anggotanya untuk terus melakukan evaluasi yang ketat terhadap formularium obat yang digunakan.

  • Peran Pasien RUM bukan semata-mata tanggung jawab tenaga kesehatan. Tetapi terwujudnya RUM juga sangat dipengaruhi oleh perilaku pasien sebagai konsumen medis, sehingga pasien pun memiliki tanggung jawab yang sama besarnya untuk mendukung tercapainya RUM.

  1. Agar tercapai Tepat Pasien Bantu tenaga kesehatan agar dapat menilai kondisi pasien dengan tepat. Informasikan pada tenaga kesehatan jika pasien adalah seorang ibu menyusui, atau memiliki riwayat alergi terhadap obat tertentu, memiliki kelainan ginjal, hati , dll. Memang seharusnya hal ini diajukan oleh tenaga kesehatan sendiri, tetapi tidak ada salahnya pasien berinisiatif menginformasikannya jika tenaga kesehatan lupa menanyakan. Toh semua demi kepentingan pasien sendiri.
  2. Agar tercapai Tepat Indikasi Bantu tenaga kesehatan menegakkan diagnosa dengan menginformasikan selengkap-lengkapnya gejala, keluhan atau sakit yang sedang dialami.
  3. Agar tercapai Tepat Obat Pada saat pasien menerima resep, seharusnya bukan menjadi tanda bahwa waktu kunjungan ke dokter telah berakhir. Justru konsultasi harus dilanjutkan guna  mendiskusikan obat apa saja yang diresepkan. Tanyakan pada dokter mengenai komposisinya, kegunaannya, cara pakai, hingga lama penggunaan obat. Dengan demikian pasien sudah mendapat gambaran obat apa saja yang akan diminum dan efek terapinya yang didapatkan sebelum memutuskan untuk membeli obat tersebut. Jika ada obat yang dirasa tidak sesuai dengan gejala yang dirasakan, tanyakan pada Dokter. Sebaiknya pasien aktif bertanya, jangan hanya pasrah dan diam saja karena yang sedang dibahas adalah kesehatan pasien sendiri. Hal ini juga akan menjadi fungsi kontrol dari pasien bagi dokter agar selalu terdorong memberikan obat yang sesuai indikasi.
  4. Agar tercapai Tepat Biaya Pasien harus mengetahui hak-haknya sebagai konsumen medis termasuk memilih obat yang sesuai dengan keuangannya, apakah menggunakan obat generik, obat bermerek atau obat originator / paten.

Rational Use of Medicines

Irrational use of medicines is a major problem worldwide. WHO estimates that more than half of all medicines are prescribed, dispensed or sold inappropriately, and that half of all patients fail to take them correctly. The overuse, underuse or misuse of medicines results in wastage of scarce resources and widespread health hazards. Examples of irrational use of medicines include: use of too many medicines per patient (“poly-pharmacy”); inappropriate use of antimicrobials, often in inadequate dosage, for non-bacterial infections; over-use of injections when oral formulations would be more appropriate; failure to prescribe in accordance with clinical guidelines; inappropriate self-medication, often of prescription-only medicines; non-adherence to dosing regimes.

WHO advocates 12 key interventions to promote more rational use:

  1. Establishment of a multidisciplinary national body to coordinate policies on medicine use
  2. Use of clinical guidelines
  3. Development and use of national essential medicines list
  4. Establishment of drug and therapeutics committees in districts and hospitals
  5. Inclusion of problem-based pharmacotherapy training in undergraduate curricula
  6. Continuing in-service medical education as a licensure requirement
  7. Supervision, audit and feedback
  8. Use of independent information on medicines
  9. Public education about medicines
  10. Avoidance of perverse financial incentives
  11. Use of appropriate and enforced regulation
  12. Sufficient government expenditure to ensure availability of medicines and staff.

Referensi :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s