30% Obat Malaria Beredar Di Dunia Ternyata Palsu

image

Hampir 30%  obat malaria yang beredar di seluruh dunia untuk memberantas penyakit tersebut ternyata palsu. Temuan ini terungkap dalam penelitian The Lancet Infectious Diseases yang mengkaji sekitar 1.500 sampel dari tujuh obat malaria dari tujuh negara di Asia Tenggara. 

Obat-obat malaria tersebut berkualitas sangat rendah dan palsu sehingga menyebabkan resistensi obat dan kegagalan pengobatan. Selain di Asia Tenggara, ahli dari lembaga penelitian ini juga menemukan data yang sama di 21 negara sub sahara Afrika setelah menguji lebih dari 2.500 sampel obat.

Sejumlah pemerhati masalah kesehatan menilai temuan ini merupakan sebuah ”peringatan”. Para peneliti dari Fogarty International Center di Institusi Kesehatan Nasional (NIH) yang ikut dalam penelitian ini meyakini bahwa masalah ini mungkin jauh lebih besar dari data yang terungkap. Kebanyakan kasus mungkin tidak dilaporkan, melaporkan ke lembaga yang salah, atau tetap dirahasiakan oleh perusahaan obat.

Bagaimanapun penelitian terkait kualitas obat ini tidak pernah dilakukan secara luas di Cina atau India – negara dengan sepertiga populasi penduduk dunia dan ”kemungkinan” sumber dari banyak obat-obatan palsu termasuk obat anti malaria.

Kajian ini juga menemukan banyak fasilitas yang tidak mencukupi untuk mengawasi kualitas obat-obatan anti malaria serta pengetahuan yang rendah dari konsumen dan pekerja kesehatan atas terapi pengobatan. Dan ditemukan juga kurangnya peraturan yang mengawasi pabrik obat dan sedikitnya hukuman bagi para pemalsu.

Bahaya malaria

Sekitar 3,3 miliar orang beresiko terkena malaria, yang sudah diklasifikasikan endemis di 106 negara. Di antara 655.000 dan 1,2 juta orang meninggal setiap tahun dari infeksi Plasmodium falciparum. Sebagian besar ini angka kesakitan dan kematian dapat dihindari jika obat yang tersedia untuk pasien berkhasiat, berkualitas tinggi, dan digunakan dengan benar.

 Setiap tahunnya, sekitar 1,2 juta orang di seluruh dunia meninggal karena penyakit malaria. Demikian menurut data terbaru yang dimuat dalam jurnal kesehatan Inggris, The Lancet. Angka yang dilansir itu jauh lebih tinggi dari perkiraan WHO tahun 2010 yakni 655.000. Perbedaan jumlah tersebut antara lain karena para peneliti kini menggunakan data yang lebih luas dan lebih dipercaya, termasuk menggunakan teknik yang disebut “autopsi verbal”. Lewat teknik ini para peneliti mewawancarai anggota keluarga orang yang belum lama ini meninggal. Di banyak negara miskin yang infrastruktur kesehatannya rendah, cukup banyak kematian yang tidak teridentifikasi penyebabnya.  Meski begitu, baik WHO atau the Lancet menunjukkan data adanya penurunan jumlah kematian global akibat penyakit yang ditularkan lewat nyamuk ini.  Angka kematian global akibat malaria sempat meningkat dari 995.000 di tahun 1980 dan mencapai puncaknya di tahun 2004 yang mencapai 1,82 juta, lalu turun kembali 1,24 juta di tahun 2010.  Peningkatan kematian di tahun 2004 antara lain disebabkan karena peningkatan populasi yang beresiko tinggi terkena malaria, sementara penurunan di tahun 2010 dicapai karena upaya pengendalian malaria secara cepat di Afrika yang banyak didanai oleh donor internasional.  Salah satu lembaga donor yang paling aktif saat ini adalah Bill and Melinda Gates Foundation, RBM, dan Global Fund to Fight AIDS, Malaria, dan Tuberkulosis. Selain memperluas akses pengobatan, pemberian kelambu juga efektif untuk mencegah gigitan nyamuk malaria. Dari data terbaru ini juga terungkap kematian akibat malaria juga terjadi pada anak-anak dan orang dewasa. Pada tahun 2010, sekitar 42 persen kematian terjadi pada anak berusia di atas 5 tahun sampai di atas 15 tahun

Meskipun demikian, angka kematian malaria telah turun lebih dari 25% secara global sejak 2000, dan sebesar 33% di wilayah Afrika. Tetapi organisasi kesehatan PBB, WHO mengatakan mempertahankan laju kemajuan saat ini tidak akan cukup untuk memenuhi target pengendalian malaria secara global. Hal ini menuntut pembaruan investasi dalam pengujian diagnostik, perawatan, dan pengawasan untuk malaria.

image

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bernama Plasmodium. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi parasit tersebut. Di dalam tubuh manusia, parasit Plasmodium akan berkembang biak di organ hati kemudian menginfeksi sel darah merah yang akhirnya menyebabkan penderita mengalami gejala-gejala malaria seperti gejala pada penderita influenza. Apabila tidak diobati, penyakit akan semakin parah dan dapat terjadi komplikasi yang berujung pada kematian .

Penyakit ini paling banyak terjadi di daerah tropis dan subtropis di mana parasit Plasmodium dapat berkembang baik begitu pula dengan vektor nyamukAnopheles. Daerah selatan Sahara di Afrika dan Papua Nugini di Oceania merupakan tempat-tempat dengan angka kejadian malaria tertinggi.

Berdasarkan data di dunia, penyakit malaria membunuh satu anak setiap 30 detik. Sekitar 300-500 juta orang terinfeksi dan sekitar 1 juta orang meninggal karena penyakit ini setiap tahunnya. Sebanyak 90% dari jumlah kematian yang terjadi di Afrika dialami anak-anak. Untuk penemuannya atas penyebab malaria, seorang dokter militer Prancis Charles Louis Alphonse Laveran mendapatkan Penghargaan Nobel untuk Fisiologi dan Medis pada 1907.
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s