Patofisiologi Demam

image

Suhu tubuh normal adalah berkisar antara 36,6˚C – 37,2˚C. Suhu oral sekitar 0,2 – 0,5˚C lebih rendah dari suhu rektal dan suhu aksila 0,5˚C lebih rendah dari suhu oral. Suhu tubuh terendah pada pagi hari dan meningkat pada siang dan sore hari. Pada cuaca yang panas dapat meningkat hingga 0,5˚C dari suhu normal. Pengaturan suhu pada keadaan sehat atau demam merupakan keseimbangan antara produksi dan pelepasan panas.

Demam terjadi bila berbagai proses infeksi dan noninfeksi berinteraksi dengan mekanisme pertahanan hospes. Pada kebanyakan anak demam disebabkan oleh agen mikrobiologi yang dapat dikenali dan demam hilang sesudah masa yang pendek. Demam pada anak dapat digolongkan sebagai (1) demam yang singkat dengan tanda-tanda yang khas terhadap suatu penyakit sehingga diagnosis dapat ditegakkan melalui riwayat klinis dan pemeriksaan fisik, dengan atau tanpa uji laboratorium; (2) demam tanpa tanda-tanda yang khas terhadap suatu penyakit, sehingga riwayat dan pemeriksaan fisik tidak memberi kesan diagnosis tetapi uji laboratorium dapat menegakkan etiologi; dan (3) demam yang tidak diketahui sebabnya (Fever of Unknown Origin = FUO). Demam terjadi oleh karena perubahan pengaturan homeostatik suhu normal pada hipotalamus yang dapat disebabkan antara lain oleh infeksi, vaksin, agen biologis (faktor perangsang koloni granulosit-makrofag, interferon dan interleukin), jejas jaringan (infark, emboli pulmonal, trauma, suntikan intramuskular, luka bakar), keganasan (leukemia, limfoma, hepatoma, penyakit metastasis), obat-obatan (demam obat, kokain, amfoterisin B), gangguan imunologik-reumatologik (lupus eritematosus sistemik, artritis reumatoid), penyakit radang (penyakit radang usus), penyakit granulomatosis (sarkoidosis), ganggguan endokrin (tirotoksikosis, feokromositoma), ganggguan metabolik (gout, uremia, penyakit fabry, hiperlipidemia tipe 1), dan wujud-wujud yang belum diketahui atau kurang dimengerti (demam mediterania familial)

Patofisologi Demam

Mekanisme demam terjadi ketika pembuluh darah disekitar hipotalamus terkena pirogen eksogen tertentu (seperti bakteri) atau pirogen endogen (Interleukin-1, interleukin-6, tumor necrosis factor) sebagai penyebab demam, maka metabolit asam arakidonat dilepaskan dari endotel sel jaringan pembuluh darah. Metabolit seperti prostaglandin E2, akan melintasi barrier darah-otak dan menyebar ke dalam pusat pengaturan suhu di hipotalamus, yang kemudian memberikan respon dengan meningkatkan suhu. Dengan titik suhu yang telah ditentukan, hipotalamus akan mengirimkan sinyal simpatis ke pembuluh darah perifer. Pembuluh darah perifer akan berespon dengan melakukan vasokonstriksi yang menyebabkan penurunan heat loss melalui kulit.

Peningkatan aktivitas simpatis juga akan menimbulkanpiloerection. Jika penyesuaian ini tidak cukup menyelamatkan panas dengan mencocokkan titik suhu yang baru, maka akan timbul menggigil yang dipicu melalui spinal dan supraspinal motor system, yang bertujuan agar tubuh mencapai titik suhu yang baru.

Ketika demam terjadi, banyak rekasi fisiologis berlangsung, termasuk konsumsi oksigen meningkat sebagai respon terhadap metabolisme sel meningkat, peningkatan denyut jantung, peningkatan cardiac output, jumlah leukosit meningkat, dan peningkatan level C-reactive protein. Konsumsi oksigen meningkat sebesar 13% untuk setiap kenaikan 1°C suhu tubuh, asalkan menggigil tidak terjadi. Jika menggigil ada, konsumsi oksigen dapat meningkat 100% sampai 200%. Beberapa sitokindilepaskan selama keadaan demam yang akan menginduksi fisiologis stres (tegang). Sitokin ini dapat memicu percepatan katabolisme otot dengan menyebabkan penurunan berat badan, kehilangan kekuatan, dan keseimbangan negatif nitrogen negatif. Fisiologis stres diwujudkan dengan ketajaman mental menurun, delirium, dan kejang demam, yang lebih sering terjadi pada anak-anak.

Pada tahap akhir jika demam turun, penurunan suhu badan sampai ke suhu normal, maka akan ditandai dengan kemerahan, diaforesis, dan tubuh akan merasa hangat.

Hasil penelitian dengan model berbagai hewan menunjukkan bahwa demam memiliki beberapa efek respons tubuh menguntungkan terhadap infeksi. Heat shock proteins (HSP) adalah salah satu penelitian fever-responsive proteins yang baru-baru dipelajari. Protein ini diproduksi selama keadaan demam dan sangat penting untuk kelangsungan hidup sel selama stres. Studi menunjukkan bahwa protein ini mungkin memiliki efek anti-inflamasi dengan menurunkan kadar sitokin pro inflamasi. Demam juga memicu efek menguntungkan lainnya, termasuk peningkatan aktivitas fagositik dan bacteriocidal neutrofil serta meningkatkan efek sitotoksik limfosit. Beberapa bakteri menjadi kurang ganas dan tumbuh lebih lambat pada suhu lebih tinggi yang berhubungan dengan demam. Peningkatan kadar C-reactive protein mendorong fagosit lebih patuh untuk menyerang organisme, memodulasi radang, dan mendorong perbaikan jaringan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s